Per Ardua Ad Astra

Thursday, October 13, 2016

Mereka bukan Aku (Refleksi Pola Asuh Orang Tua)

Keluarga Besar sang penulis di Pantai Setrojenar.
Berkeluarga adalah sesuatu hal yang manusiawi bagi pasangan anak cucu adam dan hawa untuk saling menjaga keturunan. Keturunan yang akan diwariskan dan dipelihara tentunya merupakan hal-hal yang bersifat baik, dalam artian tidak menentang norma sosial dan peraturan pemerintah yang berlaku serta tentunya dari andil peran agama yang dianutnya. Berkeluarga dan mendapatkan keturunan adalah hal yang didambakan oleh setiap orang tua, menyaksikan anaknya menjadi pribadi yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama juga menjadi salah satu cita-cita yang melekat pada masa depan anak. Anak yang terlahir suci, tanpa noda, bisa dibentuk apa saja seperti yang diinginkan oleh orang tua dan lingkungan sekitarnya. Tanpa menyalahkan pihak manapun, orang-orang yang mendapatkan label buruk dari masyarakat merupakan manusia yang masih bisa dibentuk, mereka adalah korban dari sistem yang belum sempurna di kehidupan yang kompleks. Selama mereka mash bernafas, mereka masih selalu bisa mendapatkan hak mereka untuk berubah menjadi insan yang mulia.
16 Juli 2016, tepatnya 10 hari pasca hari raya umat Islam, satu keluarga yang terdiri dari Kakek-Nenek (orang tua penulis), anak (saudara kandung penulis), dan cucu (keponakan penulis) menghabiskan waktu untuk menjauh dari hiruk-pikuk suasana kota dengan menyentuh air yang terhubung ke benua Australia. Tidak ada sistem yang dipikirkan, hanya naluri seorang kakek-nenek dan anak untuk meluangkan waktu untuk berbagi kebahagiaan dengan kedua cucu. Cucunya, Syifa (10) dan Rafa (5), merupakan cucu dari anak kedua kakek-nenek, mereka tumbuh dan berkembang sebagai anak yang tidak berdosa dan ingin dididik sebagai manusia yang bisa memanusiakan. Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tumbuh dan berkembang di kota kediaman kakek-nenek, Kebumen. Dengan kondisi orang tua mereka memenuhi kewajibannya sebagai buruh pabrik di kota seribu bunga, Bandung, mereka terpaksa harus tinggal bersama keluarga besar kakek-nenek dari sang ibu.
Rekreasi adalah obat yang mujarab ketika sang anak ditinggal orang tuanya untuk bekerja mencukupi kebutuhannya. Namun, obat tersebut bukanlah obat yang sepanjang masa bisa digunakan. Seiring berjalannya waktu, sang anak juga mengalami tumbuh dan berkembang dari segi fisik dan mental, mereka akan membutuhkan kehadiran orang tua dalam memberikan andil dalam kehidupannya secara langsung. Melakukan edukasi terkait kesadaran orang tua dalam mengasuh dan mengarahkan anaknya secara positif bukan suatu hal yang mudah layaknya membalikkan tangan. Proses internal dan eksternal dari orang tua sangat manjur bila digiati secara sungguh-sungguh, proses internal sendiri dapat dipelajari melalui bagaimana kesiapan orang tua dalam mendidik dan mengajar anak, misalnya kasih sayang, cinta, dan kepedulian, hal tersebut biasanya didapat melalui pengalaman secara langsung, sedangkan proses eksternal merupakan pengaruh-pengaruh dari luar yang bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas proses internal, misalnya membaca buku parenting, mengunjungi panti yatim piatu, mengunjungi panti anak berkebutuhan khusus, dan mengunjungi sel anak.


Tepus, 13 Oktober 2016 pukul 22.20 WIB

0 comments:

Post a Comment