Per Ardua Ad Astra

Thursday, July 14, 2016

Kisah Hidup


Pagi Readers,
Hari ini gue mau cerita tentang kisah hidup dari tetangga gue nih, gue niatnya semoga ada nilai-nilai positif yang bisa diambil dengan tanpa maksud dan tujuan untuk mengintimidasi mereka ataupun mencemarkan nama baik mereka. Gue pengin share apa adanya dari sudut pandang gue sebagai tetangga dekat. Ngga cuma tetangga sih, mereka juga sanak famili yang agak jauh dari silsilah keluarga gue.
Tahun 2007, tepatnya pas gue masih duduk di bangku SMP. Tetangga gue terdiri dari empat anggota keluarga, yaitu bapak, ibu, dan dua anak perempuannya yang masih berusia balita, anak pertama berusia sekitar 5 tahun dan anak kedua berusia sekitar 3 tahun. Profesi bapak yaitu menjual buku-buku doa (doa sehari-hari, dll) dan buku ngaji (Al Quran, Juz Amma, dll), hampir setiap hari beliau mengayuh sepeda ontelnya dengan membawa kotak kayu yang berisikan barang dagangannya. Kotak kayu yang dikaitkan di tempat boncengan bagian belakang sepedanya, menjadi saksi hidup bagi kemuliaan beliau dalam mencari nafkah bagi keluarganya. Sedangkan profesi ibu yaitu menjual jamu tradisional dengan keranjang kayu yang diikat kencang di bagian belakang sepeda ontelnya, beliau bekerja keras siang dan malam untuk persiapan dagangan selanjutnya. Namun aktivitas ibu semakin berkurang dan bahkan tidak berjualan jamu tradisional lagi. Hal tersebut beralih ke profesi sebagai ibu rumah tangga, yang perlu menyiapkan segala sesuatu kebutuhan suami dan anak-anaknya.
Dari segi geografis, rumah mereka berada tidak jauh dari rumah orang tua gue, tepatnya hanya selisih 2 meter dari tembok ke tembok. Posisi rumah menghadap ke utara dan persis di pinggir jalan, ngga jauh beda sama rumah orang tua gue lah. Dengan rumah ukuran panjang kali lebar, yaitu sekitar 7 meter x 10 meter dengan jumlah satu ruang tamu, satu ruang tidur, satu ruang keluarga, satu ruang dapur, satu ruang MCK dan teras rumah, terlihat begitu sederhana dan adem (Jawa: menenangkan). Alas rumah pun masih alas semen dan beberapa ruangan masih alas tanah, terlihat begitu mencolok dari rumah-rumah yang berada di sekitarnya, termasuk rumah di seberang jalan, yang sudah menggunakan keramik sebagai alas rumah, tidak hanya alas rumah saja, beberapa dinding juga sudah berkeramik.
Dari segi ekonomi, gue share dari kehidupan realita yang gue tau aja, mereka jarang belanja untuk membeli sayur-mayur, hampir setiap hari mereka masak nasi dan sayur bening serta berlauk tempe sebagai asupan gizi mereka. Tau dari mana? Gue tau dari ngintip jendela kamar depan yang menghadap ke pintu samping rumah mereka (pintu bagian dapur mereka), selain itu, hampir setiap hari gue juga liat di depan pintunya sisa-sisa sayur bening yang sudah basi dan sampah-sampah daun pisang bungkus tempe. Jangankan untuk rekreasi atau liburan, jajan pun buat anak-anak, gue yakin sangat dan sangat jarang, gue rasa gue ngga pernah liat bapak atau ibu ngajak anaknya ke warung seberang jalan rumah orang tua gue. Gue ngga tau alasan pastinya, entah itu keterbatasan ekonomi, prinsip hemat pangkal kaya, ataupun yang lainnya.
Dari segi sosial, untuk bapak yang asli dari desanya, cukup bisa bersosialisasi dengan baik, mempunyai sifat kalem begitu juga di dalam keluarganya, mengikuti berbagai undangan untuk hajatan, yasinan rutin, dan kegiatan gotong royong lainnya, sedangkan ibu yang bukan berasal dari desa tersebut, cukup jarang gue liat sosialisasinya dengan orang-orang sekitar, setau gue beliau juga ngga ikut arisan ibu-ibu dan yasinan rutin. Entah sibuk mengurus keluarga atau perihal lainnya, yang jelas gue ngga bisa mendeskripsikannya secara detail tanpa konfirmasi dari pihak yang bersangkutan.
Dari segi pola asuh keluarga terhadap anak, gue bingung mau cerita dari mana, sulit dijelaskan lewat kata-kata. Langsung to the point ya. Pada saat mereka mempunyai anak yang pertama, gue masih bisa hidup tenang di rumah orang tua gue. Namun seiring berjalannya waktu, mereka dititipi anak yang kedua oleh Tuhan. Nah, semenjak anaknya bertambah usia yang berarti juga bertambah kebutuhan mereka dalam kehidupannya, gue mulai sering mendengar ibunya sering ngomel-ngomel, kadang sampai main fisik ke anaknya, dan jeritan tangis anak pun dapat gue dengarkan. Hampir setiap hari pasti ada hal-hal seperti itu. Padahal pada saat itu usia anak pertama sekitar 5 tahun dan anak kedua sekitar 3 tahun. Kejadian tersebut terjadi di dalam rumah tentunya, jadi ngga semua orang pasti tau. Yang tau persis ya tentunya orang-orang yang rumahnya berdekatan, dalam hal lain yaitu rumah orang tua gue. Bapak gue ngga selalu di rumah dan ibu gue jelas ngga mau ikut campur urusan tetangga. Semenjak itulah, gue ngerasa hidup gue ngga tenang karena banyak yang tutup mata atau lepas tangan, gue cuma bisa mendengarkan tangisan anak tanpa dosa hampir setiap hari. Gue sebagai anak ABG peralihan SMP ke SMK juga ngga bisa melakukan tindakan solutif, sempat terbesit gue ngrekam kejadian tersebut dan gue laporkan ke polisi atau mengadukan ke perlindungan anak. Tapi gue merasa, sekali lagi, tindakan gue pasti salah karena langsung membawa ke ranah hukum. Pasti ada banyak hal yang perlu dikonfirmasi terkait kejadian tetangga gue dan tentunya juga masih bisa diselesaikan dengan solusi yang lebih humanis. Seandainya posisi gue adalah orang dewasa atau kepala keluarga di rumah, yang jelas bukan ABK, pasti gue langsung minta konfirmasi ke tetangga gue saat kejadian berlangsung yang tujuannya adalah tidak melibatkan anak dalam permasalahan keluarga. Bagaimana anak bisa belajar menjadi orang baik jika lingkungan keluarganya saja sudah seperti itu?
Beberapa tahun setelah kejadian tersebut berlangsung, bapak dari anak-anak tetangga gue meninggal dunia dan kehidupan di keluarga tersebut menjadi 3 srikandi saja yaitu ibu dan dua anak perempuannya. Namun, tangisan anak masih sering terdengar di rumah tersebut. Selang 1-2 tahun kemudian, akhirnya ibu dari anak tersebut memutuskan berpindah ke daerah tempat asal ibu. Sementara rumah tersebut dikontrakan ke seseorang. Semenjak berpindah, gue masih bertanya-tanya bagaimana kisah hidup anak-anak yang tak berdosa tersebut? Apakah mereka sudah mendapatkan perlakuan yang lebih humanis? Bagaimana gue bisa mengikuti perkembangan mereka?. Ah, apakah gue terlalu ikut campur terlalu jauh dalam memikirkan mereka?
Lama tak kunjung tiba, akhirnya datang juga. Pada saat lebaran kemarin, banyak yang datang ke rumah ortu gue buat sekedar silaturahmi, gue cuma bisa cari muka di depan, siapa tau dapet angpao atau malah dapet jodoh. Hahaha…. Yang penting jangan dapet hak miliknya orang lain J. Dari banyaknya yang datang, I paid an attention to someone who I guessed it’s so familiar in my mind, oh my God, what was I seeing was the first daughter of my neighbour that has settled in somewhere else? Oh, it’s been a long time and she’s not looked like a child anymore. Yeah, she’s a student of junior high school then. It meant that she’s already treated well by her relatives. Yes, she came to my parents’ house with her aunt, and her relatives lost contact with her mother. I heard through the grapevine that her mother went to somewhere else in order to get a job. I hoped her mother would be fine and back to her daughters. Anyway, it’s so touching for me because she grew well and could go to school. She would be a good iron lady for someone. On that day, I started to write this text and I knew that’s why I want to get my higher education. It’s all not about the prestige, not for a reputation of high quality, or ever just for my self-interest. I will dedicate my life for those people who need such as children with special needs, orphans, children with broken home, problem children, ragamuffin, waifs, etc. Because they’re the good future of Indonesia who will bring Indonesia to be more humanist country in the world. I won’t let the life knocks down them. Adi, be a blessing to someone today!

“Stay foolish, stay hungry” – Steve Jobs

“In order for the light to shine so brightly, the darkness must be present” – Francis Bacon

“I can’t change the direction of the wind but I can adjust my sails to always reach my destination” – Jimmy Dean



                                    

0 comments:

Post a Comment