Per Ardua Ad Astra

Wednesday, June 29, 2016

Misteri Skripsiku Part 1

Siapa sih yang ngga pengen lulus kuliah S1 tepat waktu? Apalagi kumlot (CUM LAUDE) dan masa studinya kurang dari 4 tahun gitu, wah pasti bangga dan sangat menjadi contoh dari adik-adik tingkat di perkuliahan. Diundang dalam acara-acara kampus kaya percepatan studi, dibicarakan oleh dosen sebagai contoh baik, dan aktif dalam berbagai organisasi. Ibarat bicara makanan, mereka di atas adalah termasuk makanan kategori foodporn yang bisa menggairahkan para konsumen untuk segera menikmatinya, sedangkan orang-orang yang tidak termasuk di atas bisa jadi termasuk makanan junk foods yang bisa dijadikan alternatif bagi para konsumen di atas dan masih tetap laku juga buat konsumen dengan ­low money.  Okay, today we won’t talk about the kind of foods that we eat or desire, but we can learn from them. God is very amazing to create people in the beautiful differences. It means that everybody or person was born to be a great and wonderful one on his/her own way. Like what I‘ve got now, it was pretty challenging for getting through, but there are lots of great points of the life. Here we go, let’s enjoy my writing of my real story in tackling the bachelor thesis.
Kesempatan untuk Berpikir dan Memilih
Gue masih inget bener, pada saat pengajuan dosen pembimbing di semester 6, gue dikasih 3 kesempatan untuk menuliskan dosen idaman yang akan menemani gue selama mengerjakan skripsi. Saat itu, setelah kuliah statistik yang diampu oleh bidadari (kata Meisya, salah satu temen baru gue di akhir perkuliahan) yang nama aslinya adalah Mrs. Tin Suharmini, M.Si, kami bener-bener mikir 3 nama favorit yang menjadi andalan super di jurusan untuk mendapatkan gelar mahasiswa lulus tercepat. Gue juga ngga jaim ya, gue sempet mikir bentar background dari masing-masing dosen yang mau gue pick up. Pertama, gue milih bidadari a.k.a Mrs. Tin Suharmini, M.Si dengan alasan gue pengen cepet lulus, buktinya tahun kemarin ada mahasiswa bimbingan beliau yang lulus dengan masa studi 3 tahun 6 bulan, pokoknya bisa jadi rekor muri di jurusan PLB. Oh iya, gue kasih bocoran dikit ya, di PLB FIP UNY jarang ada yang namanya semester pendek atau khusus, jadi mau ngga mau tetep kuliah dengan paketan yang super mengerikan dan pada semester 7 masih ada paketan mata kuliah teori, hampir mustahil lah buat lulus dengan masa studi 3 tahun 6 bulan. Lanjut pilihan dosen kedua, dosen kedua pun juga gue pilih dengan latarbelakang bimbingan yang super, yang sudah mencetak lulusan dengan masa studi kurang dari 4 tahun. Beliau adalah dosen pembimbing akademik gue yang bernama Mr. Prof. Dr. Edi Purwanta, M.Pd, sekarang jadi wakil rektor II UNY. Kedua dosen tersebut memang punya aura khusus bagi mahasiswa-mahasiswa yang pengen lulus dengan masa studi kurang dari 4 tahun.
Milih dosen pembimbing skripsi saja harus dipikir mateng-mateng, biar ngga salah penempatan atau kurang sesuai yang diinginkan. Yah, boleh dibilang kaya mau daftar ujian tertulis yang milih beberapa jurusan favoritnya, eh tau tau ngga keterima, “sakitnya tuh di sini (nunjuk otak)”, dan lanjut ke universitas buangan “kata orang-orang”. Sebenernya itu bukan masalah dimana Anda akan kuliah, entah Anda mau kuliah di negeri atau swasta, di kota atau di pelosok, di negeri dan di dalam negeri, itu hanya remarks dari sebagian besar orang-orang yang menilai karena individunya banyak mencoretkan tinta emas, so what? Menurut gue, gue ngga mau terkalahkan karena hanya dengan remarks tersebut gue merasa minder dan feeling disappointed, and just say to yourselves inside that wherever you learn you always have a chance to spread your wings and believe in you that you won’t let the life knocks you down. You are extremely worthy.
Lanjut, sebagai antisipasi bahwa dosen pertama dan kedua ngga bakal jadi dosen pembimbing skripsi gue. Gue bener-bener ngga mau jatuh ke genangan comberan, yaitu gue harus memutuskan kalo gue tahu background dari calon dosen pembimbing skripsi gue, gue ngga mikir cepet atau tidaknya masa studi yang gue tempuh, gue cuma pengen belajar skripsi dan gue dapet ilmu dari dosen pembimbing skripsi gue. Akhirnya, gue mempertimbangkan bener untuk pilihan terakhir gue nih, daripada gue dapet dosen pembimbing yang cap-cip-cup alias masa depan gue bukan gue yang menentukan, gue dengan gagah dan berani serta sedikit rasa dag-dig-dug gue memutuskan untuk dosen pilihan pembimbing yang ketiga adalah Mrs. Dr. Ishartiwi, M.Pd alias chairman of master’s degree in special education at YSU. Beliau memang dikenal sangat angker, karena cara mengajar dan membimbingnya super dan super sekali, ngga pandang bulu buat ngasih pembenaran atas kesalahan, bahkan sekalipun dosen.

Hari demi hari, terasa kosong tanpa adanya kejelasan, bulan demi bulan mulai nampak hilal dari ufuk barat. Akhirnya pengumuman dosen pembimbing skripsi pun dipajang di papan pengumuman depan jurusan PLB. Gue udah pasrah sih, entah siapa dosen yang jadi pembimbing gue, gue bakal bersyukur dan fighting!. Dan ternyata, dengan dada yang berkembang-kempis antara nyata dan tidak nyata, antara menerima dan tidak menerima, dosen pembimbing gue adalah Mrs. Dr. Ishartiwi, M.Pd. Pada awal pengumuman saja, gue langsung merinding melihat namanya, apalagi kalo bertemu langsung, bisa-bisa gue nangis darah di tempat. Pantes saja, banyak mahasiswa yang bilang beliau sangat angker dan realitanya memang jarang yang pada milih beliau, dan ujung-ujungnya mereka yang ngga dapet dosen favorit ya kena kembang kuncup yaitu masuk ke dunia asral. Kalo ini nih yang tambah parah, gue aja yang milih agak dag-dig-dug hati bergetar, apalagi yang ngga milih alias menghindari dapet beliau tapi eh malah dapet Mrs. Dr. Ishartiwi, M.Pd, pastinya yang angker bukan hanya dosennya tapi mahasiswa juga lebih angker.

0 comments:

Post a Comment