Per Ardua Ad Astra

  • This is Slide 1 Title

    This is slide 1 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 2 Title

    This is slide 2 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 3 Title

    This is slide 3 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

Wednesday, June 29, 2016

Misteri Skripsiku Part 6


Semuanya telah Terbayar

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu berharap.” - Q.S. Al Insyirah ayat 6-8


Akhirnya, setelah melewati proses lebih dari 6 bulan untuk mengerjakan Tugas Akhir Skripsi, gue bisa melewati jadwal ujian skripsi gue dengan lancar dan sukses. Gue yakin Beliau juga sudah melakukan semaksimal mungkin buat narik kemampuan gue dalam mengerjakan skripsi. Begiu banyak pengalaman berharga yang ngga bisa gue ungkapkan melalui kata-kata, baik pengalaman duka maupun suka, yang pastinya sudah mewarnai jalan hidup gue selama mengenyam pendidikan Sarjana di Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Gue selalu mensyukuri proses yang gue jalani dan mengambil beberapa nilai-nilai yang bisa dijadikan bekal di masa yang akan datang, antara lain: (1) selalu bersyukur kepada Tuhan atas segala situasi di sekitar, baik duka ataupun suka, (2) menghargai setiap proses yang telah kita lewati karena setiap proses yang kita lewati adalah jalan terbaik bagi kita yang tidak bisa digeneralisasikan dengan yang lain, (3) selalu berpikir positif dengan logika agar tidak terjebak pada perasaan yang kurang menguntungkan bagi diri kita, (4) selalu berusaha dan berdoa kepada Tuhan agar selalu diberikan petunjuk dan kemudahan dalam segala urusan, (5) percayalah kepada Tuhan apapun yang kita lakukan pasti tidak sia-sia, pasti ada hikmahnya.


foto setelah ujian dengan dosen pembimbing :))
foto keluarga besar PLB C 2012 :))



Misteri Skripsiku Part 6


Semuanya telah Terbayar

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu berharap.” - Q.S. Al Insyirah ayat 6-8


Akhirnya, setelah melewati proses lebih dari 6 bulan untuk mengerjakan Tugas Akhir Skripsi, gue bisa melewati jadwal ujian skripsi gue dengan lancar dan sukses. Gue yakin Beliau juga sudah melakukan semaksimal mungkin buat narik kemampuan gue dalam mengerjakan skripsi. Begiu banyak pengalaman berharga yang ngga bisa gue ungkapkan melalui kata-kata, baik pengalaman duka maupun suka, yang pastinya sudah mewarnai jalan hidup gue selama mengenyam pendidikan Sarjana di Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Gue selalu mensyukuri proses yang gue jalani dan mengambil beberapa nilai-nilai yang bisa dijadikan bekal di masa yang akan datang, antara lain: (1) selalu bersyukur kepada Tuhan atas segala situasi di sekitar, baik duka ataupun suka, (2) menghargai setiap proses yang telah kita lewati karena setiap proses yang kita lewati adalah jalan terbaik bagi kita yang tidak bisa digeneralisasikan dengan yang lain, (3) selalu berpikir positif dengan logika agar tidak terjebak pada perasaan yang kurang menguntungkan bagi diri kita, (4) selalu berusaha dan berdoa kepada Tuhan agar selalu diberikan petunjuk dan kemudahan dalam segala urusan, (5) percayalah kepada Tuhan apapun yang kita lakukan pasti tidak sia-sia, pasti ada hikmahnya.

Misteri Skripsiku Part 5


Habis Gelap Terbitlah Terang
Gue juga ngga sepenuhnya pasrah dan terlena pada nasib temen-temen gue yang sudah penelitian dan ujian skripsi. Akhir bulan April 2016 mulai juga terlihat tanda-tanda kehidupan semangat kami, the front fighters, yang secara bergantian dalam waktu seminggu mendapatkan kata ACC untuk melakukan penelitian. Saatnya menyalakan api semangat kembali, jangan terpaku pada nasib seseorang yang lebih cemerlang daripada kita. Kita berharga dan kita menghargai proses kita masing-masing.
Bulan Mei 2016, gue mengadakan penelitian di SLB A Yaketunis Yogyakarta dengan subjek penelitian kelas V. Gue ngerasa kangen saat di SLB A Yaketunis dan mengenang masa-masa indah pelaksanaan PPL I dan II juga. Akhirnya, hampir melewati 4 tahun gue belajar di Jogja, gue sudah didekatkan dengan agenda pelepasan Sarjana, yang artinya gue harus harus siap ke rencana selanjutnya, yaitu nyari beasiswa dan mengabdi di sekolah. Fokus ke penelitian, gue mengadakan penelitian selama 1 bulan di SLB A Yaketunis, untung ada temen PPL yang penelitian juga di kelas V, tapi jarang ketemu karena hari pelaksanaan penelitiannya berbeda. It’s okay, at least I was not alone and I could make a farewell address to the special school. It’s time to end up conducting the research.
Bulan Mei 2016, gue juga masih nyambi beberapa kegiatan di luar kampus, seperti Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP), SLB Puspa Melati, dan mengikuti beberapa events tertentu. Ngga ada waktu buat mudik ke kampung halaman, Kebumen, dan cukup mendengar suara si mbok (Jawa: panggilan untuk Ibu) agar selalu mendoakan dari jauh agar anaknya segera menyelesaikan studinya. Waktu buat kepo-kepo the front fighters juga ngga ada selama penelitian dan pasca penelitian. Gue juga harus ngejar Bab IV dan V, dan mereka pun juga pastinya. Finally, Chapter IV and V has done and ready to be consulted by my supervisor, Mrs. Ishartiwi. I wish the best of luck.
Pada awal Juni 2016, gue mencoba menemui Beliau dengan maksud dan tujuan untuk mengkonsultasikan hasil penelitian gue. Hasilnya adalah gue masih revisi Bab IV dan V. Ngga sengaja gue ketemu Melalita saat di depan jurusan PLB, ternyata Melalita sudah 1 langkah lebih maju dari gue, sedangkan Meisya masih disibukkan dengan aktivitasnya di luar kampus sehingga belum mengkonsultasikan hasil penelitiannya. Gue tetep sabar dan gue ngga mau terbakar api cemburu, gue percaya pasti ada waktu yang pas buat ujian gue, gue yakin Beliau juga mempersiapkan masing-masing mahasiswa bimbingannya agar benar-benar siap diuji oleh dosen lain. Jadi, gue harus berpikir positif dan fokus nyari referensi buat skripsi gue biar gue semakin banyak ilmu dan peraya diri pada saat ujian.
Waktunya tiba, seminggu setelah Melalita mendapatkan kata ACC untuk ujian skripsi, gue pun juga kena imbas baiknya. Akhirnya gue dapet kata ACC untuk ujian skripsi. Gue langsung ngurus dan melengkapi berkas-berkas yang perlu dilengkapi termasuk abstrak dan artikel ilmiah. Persiapan buat ujian skripsi juga sudah gue urus. Tepatnya pada tanggal 10 Juni 2016, gue menyerahkan berkas-berkas ujian ke Subbag Pendidikan dan ditetapkan tanggal 22 Juni 2016 jam 10.00 WIB sebagai jadwal ujian skripsi gue.
Gue sempet berpikir sejenak, flashback di saat gue merasa cemburu dan mendambakan ujian skripsi layaknya temen-temen gue dulu. Gue akhirnya merasakan bahwa inilah jalan terbaik gue buat menempuh ujian skripsi dengan proses dan waktu yang gue anggap sebagai rencana indah dari Tuhan, selalu mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan dan selalu berpikir positif dalam mengahadapi situasi di sekitar. Terima kasih Tuhan, setidaknya Engkau selalu memberikan kesempatan kepada hamba-Mu untuk belajar lebih baik dan untuk mendekatkan kepada-Mu.

Misteri Skripsiku Part 4


Tantangan Batin
Bulan April 2016 masih berlanjut dengan revisi proposal skripsi gue, begitu juga dengan the front fighters yang masih memperjuangkan haknya dalam memperoleh kata ACC dalam proposal skripsinya. Bulan April 2016 merupakan bulan yang penuh godaan hati dan perasaan yaitu banyak temen-temen kelas gue yang mulai penelitian dan bahkan beberapa yang sudah mulai mendaftar ujian skripsi. Oh my God, please help me to deal with the obscurity, and let my heart accept the reality. I know this’s the beautiful way of my own story of my bachelor thesis. I encouraged myself to be more brave and strong. Please, cherish the proses and don’t afraid of the time because God helps those who help themselves. I told myself that I could do it.
Gue bisa menerima realita bahwa proses bimbingan dengan Beliau memang benar-benar menguras tenaga dan pikiran, tapi gue tetep yakin bahwa dibalik itu semua pasti ada hal yang besar, mungkin gue belum menemukan sekarang tapi suatu saat gue pasti tau ada hikmah atau nilai positif dari semua proses ini. Belajar tidaklah harus sekarang, belajar juga bisa melalui masa lalu yang kita lewati melalui pengalaman.

Misteri Skripsiku Part 3


Hargai Proses

Hari demi hari, semester 7 berakhir pada bulan Desember 2015, secara tidak langsung gue diingatkan untuk segera menghadap ke dosen pembimbing skripsi gue. Akhirnya setelah pada semester 7 gue mendapatkan banyak saran dari mata kuliah Seminar Proposal PLB, gue mulai berani maju secara mandiri untuk mengajukan Bab I terlebih dahulu. Dengan perasaan ­dag-dig-dug, apakah ini gejala jatuh cinta? Hehe. Gue lawan segala kekhawatiran mengenai ucapan-ucapan bullshit yang mengatakan beliau angker dan sebagainya. Gue langsung bertemu beliau dan menyampaikan maksud dan tujuan gue datang “selamat siang ibu, saya Adi Suseno, mahasiswa bimbingan ibu, saya ingin berkonsultasi mengenai proposal skripsi saya.” dan yap “tinggal saja proposalnya” kata beliau. Oh, it was just like that, even I hadn’t spoken anything about my thesis to her. I wanted to talk too much about thesis that I couldn’t understand. Okay, I kept on thinking positively, maybe she was in hurry or busy. “Don’t worry about that, at least you’ve tried to meet her” I told myself.

Happy New Year, everyone!

Di tahun 2016, resolusi terbesarku adalah lulus segera dari almamater tercinta, Universitas Negeri Yogyakarta, targetnya adalah wisuda bulan Mei 2016, kemudian lanjut fokus ke LPDP dengan mempersiapkan salah satu persyaratan yang super yaitu mengambil intensive class of Ielts or Toefl ITP selama 3 bulan dengan target pencapaian skor Ielts sebesar 6.5 untuk setiap band atau Toefl ITP sebesar 550 overall. I wanna pursue my master’s degree in special education at Boston University. But, I have to know the result of Ielts or Toefl ITP to decide whether I deserve to get a full scholarship to abroad or not. It depends on the result, isn’t it?
Resolusi tahun 2016 sudah dibuat, langkah pertama harus menaklukan skripsi untuk dapat melanjutkan ke langkah berikutnya. Target penerimaan proposal skripsi yaitu bulan Januari 2016, yang artinya gue harus mengadakan penelitian di bulan Februari 2016, kemudian fokus Bab IV dan V pada bulan Maret 2016, dan ujian sekalian yudisium pada bulan April 2016, wisuda di bulan Mei 2016 pun bisa gue ikuti. What a perfect plan!

A proverb says “You can’t always get what you want.”

Suatu saat, peribahasa di atas memang benar, gue harus sadar bahwa hal terburuknya adalah ngaretnya rencana studi gue, seperti saat milih dosen pembimbing skripsi, gue juga harus mikir dan punya rencana cadangan kalo dosen pembimbing skripsi gue bakal ngga diterima dan dapetnya kembang kuncup cap-cip-cup alias gue harus memasrahkan hidup dan mati gue kepada Tuhan, it’s okay, but as long as I live I will try to set myself up in the better life. Dan bulan Januari sudah mulai memudar dari tanggalnya, yang artinya gue harus menerima kenyataan bahwa proposal gue masih macet di Bab I. Gue menyemangati diri gue sendiri sambil berdoa agar Tuhan segera mengirimkan jodoh buat gue, biar ada yang menyemangati gitu deh. Akhirnya gue tetep optimis, jangan nyerah dan ini tantangan yang sangat menyenangkan bro. Gue pun langsung banting stir, yang penting jangan sampai gulung tikar ya, hehe. Pada awalnya, bulan Mei 2016 adalah target wisuda gue, dan gue ganti menjadi bulan Mei adalah target ujian dan yudisium gue.

“Libur telah tiba, asyikk …. “
“Libur telah tiba, horee ….. “
“Hatiku gembiraa ….. “
(Cuplikan lagu anak-anak oleh Tasya Kamila)

Pertengahan Januari sampai pertengahan Februari 2016 adalah masa libur pergantian semester dari ganjil ke genap. Gue pun ngga mau tau dan ngga peduli tantang libur atau ngga libur selama ngejar skripsi, gue tetep harus ngublek-ublek (Jawa) skripsi gue. Gue punya target, gue harus semangat, dan gue harus kerja, banyak kalimat-kalimat positif yang gue tanam ke diri gue. Liburan akhirnya berakhir, gue baru mulai masuk Bab II dan III dan saatnya konsultasi. Gue tetep semangat revisi bolak-balik dan tetep cermati Bab I, II, dan III biar sinkron dan nyambung satu sama lain, tapi namanya juga manusia, gue kecolongan juga dengan beberapa istilah yang ngga konsisten dan Bab II dan III yang masih mentah lah. Dosen pembimbing skripsi gue memang super, beliau sangat cermat dan detail dalam mengecek proposal gue, bisa dibilang beliau kaya punya indra ke-enam buat urusan jenis penelitian gitu. Beliau juga cukup menuntut untuk memperbaiki, menambah teori, sampai gue juga mengganti total bagian-bagian penting dalam kajian teori. Gue sering ngerasa bahwa gue ngga bisa memenuhi tuntutannya, terlalu berat buat mahasiswa pencari gelar Sarjana, tetep ngga bisa dibandingkan dengan kemampuan Beliau yang mempunyai gelar Doktor (S3). Ngga jarang juga, saat ngambil revisian skripsi dan liat banyak lipatan yang harus diperbaiki, gue langsung pengen makan banyak biar ngga cepet kurus mikir skripsi. Gue yakin bahwa tujuan Beliau memang baik yaitu agar mahasiswanya dapat belajar banyak dari ilmu Beliau, Beliau juga pengen membimbing dengan maksimal sesuai dengan kapasitas mahasiswanya. Beliau pun juga kerja keras biar mahasiswanya pinter, gue pun juga ngga mau kalah sama diri sendiri dan untungnya gue punya temen satu dosen pembimbing skripsi yaitu Melalita dan Meisya.
Sekilas tentang gue, Melalita dan Meisya. Beberapa orang memang sudah tau bahwa kita bertiga sebagai the front fighters, mahasiswa bimbingan Beliau yang sudah paling jauh dalam mengerjakan skripsi untuk angkatan 2012. Proses perjalanan mengerjakan skripsi kita bertiga memang ngga jauh berbeda, apalagi dengan jenis penelitian yang sama yaitu kuasi eksperimen – kami ingin menguji pengaruh suatu media/metode terhadap kemampuan tertentu siswa berkebutuhan khusus. Kami bertiga memang bukan dari satu kelas, kebetulan seperti perwakilan saja, Meisya dari kelas A yang bermodalkan kepintaran, Melalita dari kelas B yang bermodalkan mental, dan gue dari kelas C yang bermodalkan keberuntungan, hehe, tapi yang namanya sudah senasib dan sepenangungan menjadi mahasiswa bimbingan Mrs. Dr. Ishartiwi, M.Pd ya kami sering curhat satu sama lain, saling tanya satu sama lain, dan sampai ngasih saran dan pendapat terhadap skripsi lainnya. Pokonya, mereka sangat membantu dalam mengarungi kisah cintaku terhadap skripsi.
Bulan Maret 2016 masih tetap pada revisi Bab I, II, dan III, serta instrumen penelitian. Selama 2 bulan, gue ngotak-atik proposal skripsi gue sampai mimpi pun gue dikejar-kejar deadline skripsi. Gue juga ngga narget yang terlalu optimis untuk kali ini, target gue adalah wisuda bulan Agustus 2016, kalo itupun belum bisa gue juga harus menerimanya dengan lapang dada. Gue banyakin doa, amal ibadah, dan banyak-banyak nyari referensi biar up-to-date dan gue juga tetep kepo sama perkembangan Melalita dan Meisya.

Misteri Skripsiku Part 2


Perjalanan Dimulai
Perjalanan untuk melangkah ke skripsi pun dimulai, pada awal semester tujuh, jurusan PLB mengadakan kuliah umum percepatan skripsi dengan harapan bahwa mahasiswanya benar-benar cepet lulus dengan masa studi kurang dari 4 tahun. Dihadirkanlah the best epitome of the student of special education who got a title of cum laude and studied for less than 4 years, not only that, she/he was also an activist on campus. It was stunning and I felt I just got a tempting intuition that I should be a great one like him/her. Mereka memang dihadirkan untuk memantik semangat api dari mahasiswa PLB untuk segera lulus dari UNY alias dosen membutuhkan regenerasi mahasiswanya.
Saatnya bangun dari kegelapan, gue ngga mikir orang-orang mau bilang apa terhadap dosen pembimbing gue, entah itu angker, bimbingannya lama, dan susah ditemui secara langsung. Gue langsung buat draft proposal skripsi sekitar satu halaman dengan menyesuaikan format dari follow-up kuliah umum percepatan skripsi. Berbekal pada ilmu seadanya dan latarbelakang masalah di sekolah, gue dengan percaya diri gue mampu lulus dengan masa studi kurang dari 4 tahun, tepatnya 3 tahun 6 bulan, yang artinya gue harus wisuda pada bulan Mei 2016. Selain itu, gue juga ngga mau menyia-yiakan kesempatan disaat setelah kuliah umum tersebut, tiap-tiap dosen pembimbing mengumpulkan mahasiswa bimbingannya untuk segera didata dan memulai mengerjakan proposal skripsi. Tepatnya tanggal 25 Mei 2015, mahasiswa bimbingan Mrs. Dr. Ishartiwi, M.Pd langsung berkumpul menjadi satu di Ruang Sidang I Gedung F03 Lt. 2. Dengan polosnya kami diberikan pengarahan penulisan skripsi dan bekal untuk mengerjakan skripsi sekitar 60 menit, kemudian semua mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengumpulkan draft proposal skripsinya. It was just a beginning of tackling the bachelor thesis, I didn’t know what the next brings. Masa-masa skripsi memang tidak terasa pas pada saat itu, karena kami juga masih menempuh beberapa mata kuliah di semester 7. Salah satu mata kuliah di semester 7 adalah seminar proposal PLB, yaitu setiap mahasiswa membuat proposal skripsi dan mempresentasikannya di secara mandiri di kelas, proposal skripsi tersebut diharapkan sekalian menjadi proposal skripsi yang real buat menebus persyaratan gelar Sarjana. Dan untungnya, kelas gue dapet dosen pengampu Mrs. Aini Mahabbati, M.A dan Mrs. Dr. Ishartiwi, M.Pd, artinya salah satu dosen tersebut adalah dosen pembimbing skripsi gue, a proverb says “get two birds by one stone”, gue berharap selain jadi dosen pengampu di kelas, beliau juga sekalian membimbing skripsi gue dengan serius, so I didn’t waste the time, I gathered the references to make a perfect one as I could, collected for the related resources, and wrapped up my bachelor thesis proposal. Finally, my bachelor thesis proposal was done, I should cherish my work. I was confidence and proud of my effort and I let it by say a prayer to God.

Misteri Skripsiku Part 1

Siapa sih yang ngga pengen lulus kuliah S1 tepat waktu? Apalagi kumlot (CUM LAUDE) dan masa studinya kurang dari 4 tahun gitu, wah pasti bangga dan sangat menjadi contoh dari adik-adik tingkat di perkuliahan. Diundang dalam acara-acara kampus kaya percepatan studi, dibicarakan oleh dosen sebagai contoh baik, dan aktif dalam berbagai organisasi. Ibarat bicara makanan, mereka di atas adalah termasuk makanan kategori foodporn yang bisa menggairahkan para konsumen untuk segera menikmatinya, sedangkan orang-orang yang tidak termasuk di atas bisa jadi termasuk makanan junk foods yang bisa dijadikan alternatif bagi para konsumen di atas dan masih tetap laku juga buat konsumen dengan ­low money.  Okay, today we won’t talk about the kind of foods that we eat or desire, but we can learn from them. God is very amazing to create people in the beautiful differences. It means that everybody or person was born to be a great and wonderful one on his/her own way. Like what I‘ve got now, it was pretty challenging for getting through, but there are lots of great points of the life. Here we go, let’s enjoy my writing of my real story in tackling the bachelor thesis.
Kesempatan untuk Berpikir dan Memilih
Gue masih inget bener, pada saat pengajuan dosen pembimbing di semester 6, gue dikasih 3 kesempatan untuk menuliskan dosen idaman yang akan menemani gue selama mengerjakan skripsi. Saat itu, setelah kuliah statistik yang diampu oleh bidadari (kata Meisya, salah satu temen baru gue di akhir perkuliahan) yang nama aslinya adalah Mrs. Tin Suharmini, M.Si, kami bener-bener mikir 3 nama favorit yang menjadi andalan super di jurusan untuk mendapatkan gelar mahasiswa lulus tercepat. Gue juga ngga jaim ya, gue sempet mikir bentar background dari masing-masing dosen yang mau gue pick up. Pertama, gue milih bidadari a.k.a Mrs. Tin Suharmini, M.Si dengan alasan gue pengen cepet lulus, buktinya tahun kemarin ada mahasiswa bimbingan beliau yang lulus dengan masa studi 3 tahun 6 bulan, pokoknya bisa jadi rekor muri di jurusan PLB. Oh iya, gue kasih bocoran dikit ya, di PLB FIP UNY jarang ada yang namanya semester pendek atau khusus, jadi mau ngga mau tetep kuliah dengan paketan yang super mengerikan dan pada semester 7 masih ada paketan mata kuliah teori, hampir mustahil lah buat lulus dengan masa studi 3 tahun 6 bulan. Lanjut pilihan dosen kedua, dosen kedua pun juga gue pilih dengan latarbelakang bimbingan yang super, yang sudah mencetak lulusan dengan masa studi kurang dari 4 tahun. Beliau adalah dosen pembimbing akademik gue yang bernama Mr. Prof. Dr. Edi Purwanta, M.Pd, sekarang jadi wakil rektor II UNY. Kedua dosen tersebut memang punya aura khusus bagi mahasiswa-mahasiswa yang pengen lulus dengan masa studi kurang dari 4 tahun.
Milih dosen pembimbing skripsi saja harus dipikir mateng-mateng, biar ngga salah penempatan atau kurang sesuai yang diinginkan. Yah, boleh dibilang kaya mau daftar ujian tertulis yang milih beberapa jurusan favoritnya, eh tau tau ngga keterima, “sakitnya tuh di sini (nunjuk otak)”, dan lanjut ke universitas buangan “kata orang-orang”. Sebenernya itu bukan masalah dimana Anda akan kuliah, entah Anda mau kuliah di negeri atau swasta, di kota atau di pelosok, di negeri dan di dalam negeri, itu hanya remarks dari sebagian besar orang-orang yang menilai karena individunya banyak mencoretkan tinta emas, so what? Menurut gue, gue ngga mau terkalahkan karena hanya dengan remarks tersebut gue merasa minder dan feeling disappointed, and just say to yourselves inside that wherever you learn you always have a chance to spread your wings and believe in you that you won’t let the life knocks you down. You are extremely worthy.
Lanjut, sebagai antisipasi bahwa dosen pertama dan kedua ngga bakal jadi dosen pembimbing skripsi gue. Gue bener-bener ngga mau jatuh ke genangan comberan, yaitu gue harus memutuskan kalo gue tahu background dari calon dosen pembimbing skripsi gue, gue ngga mikir cepet atau tidaknya masa studi yang gue tempuh, gue cuma pengen belajar skripsi dan gue dapet ilmu dari dosen pembimbing skripsi gue. Akhirnya, gue mempertimbangkan bener untuk pilihan terakhir gue nih, daripada gue dapet dosen pembimbing yang cap-cip-cup alias masa depan gue bukan gue yang menentukan, gue dengan gagah dan berani serta sedikit rasa dag-dig-dug gue memutuskan untuk dosen pilihan pembimbing yang ketiga adalah Mrs. Dr. Ishartiwi, M.Pd alias chairman of master’s degree in special education at YSU. Beliau memang dikenal sangat angker, karena cara mengajar dan membimbingnya super dan super sekali, ngga pandang bulu buat ngasih pembenaran atas kesalahan, bahkan sekalipun dosen.

Hari demi hari, terasa kosong tanpa adanya kejelasan, bulan demi bulan mulai nampak hilal dari ufuk barat. Akhirnya pengumuman dosen pembimbing skripsi pun dipajang di papan pengumuman depan jurusan PLB. Gue udah pasrah sih, entah siapa dosen yang jadi pembimbing gue, gue bakal bersyukur dan fighting!. Dan ternyata, dengan dada yang berkembang-kempis antara nyata dan tidak nyata, antara menerima dan tidak menerima, dosen pembimbing gue adalah Mrs. Dr. Ishartiwi, M.Pd. Pada awal pengumuman saja, gue langsung merinding melihat namanya, apalagi kalo bertemu langsung, bisa-bisa gue nangis darah di tempat. Pantes saja, banyak mahasiswa yang bilang beliau sangat angker dan realitanya memang jarang yang pada milih beliau, dan ujung-ujungnya mereka yang ngga dapet dosen favorit ya kena kembang kuncup yaitu masuk ke dunia asral. Kalo ini nih yang tambah parah, gue aja yang milih agak dag-dig-dug hati bergetar, apalagi yang ngga milih alias menghindari dapet beliau tapi eh malah dapet Mrs. Dr. Ishartiwi, M.Pd, pastinya yang angker bukan hanya dosennya tapi mahasiswa juga lebih angker.