Per Ardua Ad Astra

Sunday, January 3, 2016

The House of Martha Tilaar

Selamat tahun baru 2016…
Marilah buka dengan mimpi, aksi, dan doa!

The house of Martha Tilaar dari depan
Mengawali tahun baru dengan rekan-rekan SMP Muhammadiyah 2 Kebumen, yaitu Wiwi dan Windy. Wiwi merupakan alumnus Manajemen Pendidikan UNY dan Windy merupakan alumnus Pend. Elektro Unnes. Mereka yang masih setia di Kebumen dengan pekerjaan masing-masing, memberikan kesempatan untuk saya bertemu dan berbicara satu sama lain, mulai dari curhat, mengenang masa lalu, dan sebagainya. Tanpa panjang lebar, kami memulai perjalanan bersama yaitu mengunjungi The House of Martha Tilaar, yaitu rumah bersejarah dari nenek moyang Martha Tilaar yang bertempat di daerah Gombong, Kebumen.

Bangunan samping untuk keturunan dari anak perempuan.
Dengan biaya masuk Rp. 5.000 (pelajar), Rp. 15.000 (pengunjung lokal), dan Rp. 25.000 (pengunjung non-lokal), kita bisa berekreasi sekaligus belajar sejarah dari silsilah keluarga Martha Tilaar, sejarah bangunan rumahnya, dokumentasi keluarga, perkakas rumah tangga, fungsi dari setiap sudut bangunan, dan sebagainya. Sekilas yang saya dapatkan adalah rumah tersebut adalah rumah warisan nenek moyang Martha Tilaar atas nama keluarga Handana (pak de bu Martha Tilaar). Bangunan tersebut dibangun pada tahun 1920 dengan seni arsitek yang unik. Bangunan tersebut terdiri dari tiga bagian, yaitu satu bagian rumah utama dan dua rumah samping. Rumah utama ditempati oleh keturunan laki-laki dari nenek moyang bu Martha Tilaar, sedangkan rumah samping ditempati oleh keturunan perempuannya, seperti rumah samping yang pernah ditempati bu Martha dari lahir sampai umur 11 tahun, kemudian pindah ke Batavia (sekarang: Jakarta). Ternyata, bu Martha asli kelahiran Gombong, Kebumen. Setiap sudut mempunyai cerita masing-masing dan sebagian besar perkakas rumah tangganya masih asli dari jaman dahulu.
Ruang tamu dengan properti asli yang sudah diperbaiki.
Yang membuat menarik adalah seni arsiteknya, rumah ala Belanda dengan jubin (keramik) jaman dulu yang saya yakin sekarang tidak ada yang memproduksinya dan ruangan yang sederhana, benar-benar telah memanggil memori saya untuk mempunyai rumah dengan desain seperti jaman dulu, bagi saya jaman dulu adalah bukan masalah tertinggal zaman, tetapi bagaimana kita menghargai sejarah dan bangga atas sejarah tersebut. Yah, sangat miris ketika orang-orang yang mempunyai rumah warisan jaman dulu terlena akan era global dan merenovasinya dengan arsitektur yang modern atau terkini.

Kembali lagi ke Rumah Martha Tilaar, rumah tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi bersejarah, tetapi juga mempunyai program kerja yang melibatkan dan mendayagunakan masyarakat sekitar yang dikemas dalam periode tahunan. Program kerjanya terdiri dari empat aspek, saya lupa aspek-aspeknya. Salah satunya yaitu kegiatan memperingati hari raya imlek yang dihadiri oleh masyarakat umum, mereka yang non-Tionghoa akan belajar kebudayaan dan kebiasaan orang-orang Tionghoa pada saat imlek, seperti contoh masakannya. Selain itu juga ada program menanam mangrove di sekitar daerah pesisir Kebumen. Yap, apapun yang dilakukan mereka, asalkan positif dan memberikan manfaat kepada masyarakat umum dengan baik, saya doakan akan terus berlanjut. Aamiin J
Adi Suseno di area ruang makan.
Windi dan Wiwi di area depan rumah (teras).



0 comments:

Post a Comment