Per Ardua Ad Astra

  • This is Slide 1 Title

    This is slide 1 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 2 Title

    This is slide 2 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 3 Title

    This is slide 3 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

Friday, December 16, 2016

Semiloka dan Kongres di Jember


Semiloka dan Kongres merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2016 tanggal 28 November sampai 3 Desember 2016. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Sentra Advokasi Perempuan, Difabel, dan Anak (SAPDA) yang bekerjasama dengan The Asia Foundation dan Kemenko PMK di Kabupaten Jember tersebut dilaksanakan pada tanggal 29 November sampai 1 Desember 2016 dan bertempat di Auditorium IKIP PGRI Jember yang beralamat di jalan Jawa No.10 Jember.
Bersamaan dengan peringatan HDI, kegiatan tersebut diagendakan guna menindaklanjuti Undang-undang No. 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang disahkan secara nasional pada bulan Juni 2016.  Alasan pemilihan tempat di Kabupaten Jember adalah adanya kesenjangan antara komunitas atau organisasi penyandang disabilitas dan pemerintah kabupaten terkait pelayanan dan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas. Oleh karena itu, peserta yang dilibatkan dari berbagai kalangan mulai dari penyandang disabilitas, organisasi atau komunitas, mahasiswa, tenaga kependidikan, pembuat kebijakan, dan perwakilan dari kedinasan kabupaten.
Pada hari pertama, semiloka diisi oleh narasumber dari organisasi atau komunitas yang bergerak dibidang disabilitas, yaitu dari Abdul Sakur DMI Surabaya, JBFT (Jakarta Barriers Free Tourism), Sholeh Muhdlor SAPDA, PLJ-JBI Jakarta, WKCP Yogyakarta, Sigab, Tokoh Perempuan Disabilitas, Young Voice Indonesia, Portadin, Kerjabilitas, dan Asrorul Mais dari IKIP PGRI Jember. Setiap narasumber diberikan kesempatan untuk menceritakan visi-misi organisasi atau komunitasnya, cara mencapainya, program kerjanya, keterlibatan orang luar, dan hasil atau output yang sudah dicapainya dalam memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas. Pada hari kedua, narasumber yang mengisi semiloka yaitu Bupati Jember, BAPPENAS (Direktorat Penanggulangan Kemiskinan dan Kesejahteraan Sosial), Kementerian Sosial RI, Kementerian Desa, SAPDA, Yayasan Bahtera (Sumba), advokasi identitas legal bagi kelompok rentan (Lakpesdam NU), Perbaikan layanan sebagai bagian dari pemenuhan hak warga / kelompok rentan (IKA), Perjuangan Menghapus stigma dan menghadirkan penerimaan sosial bagi kelompok rentan (SAMIN), Pemberdayaan ekonomi kelompok rentan: (Kemitraan). Dan pada hari ketiga yaitu menindaklanjuti hasil dari hari pertama dan kedua dengan membagi peserta menjadi 8 komisi yang membahas 8 sektor kehidupan dasar penyandang disabilitas, yaitu sekor kesehatan, pendidikan, ekonomi, aksesibilitas, hukum, sosial, perumahan, dan … hasil dari siding komisi tersebut nantinya dirumuskan bersama dan dipresentasikan serta dijadikan naskah deklarasi kongres disabilitas yang dibacakan secara bersama dari perwakilan disabilitas, organisasi masyarakat sipil dan pembuat kebijakan untuk menyuarakan gerakan  inklusi sosial.
Adapun hasil naskah deklarasi dari gerakan bersama Indonesia inklusif di atas adalah sebagai berikut:
1.  Latar Belakang Konggres (Cerita tentang KOnggres)
2.  Menyatakan dan menyerukan hal hal sebagai berikut:
-          Percepatan implementasi UU no 8 tahun 2016 di tingkat pusat dan daerah
-          Harmonisasi peraturan perundang undangan sesuai dengan UU no 8 tahun 2016
-          Penguatan kemandirian ekonomi bagi penyandang disabilitas baik sebagai tenaga kerja maupun pelaku ekonomi mandiri 
-          Penyediaan/terwujudnya Layanan kesehatan yang aksesibel dan berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan dan keragaman penyandang disabilitas
-          Penguatan system basis data penyandang disabilitas yang akurat mulai dari tingkat desa/kelurahan
-          Mewujudkan dan mengembangkan inovasi teknologi informasi yang aksesibel bagi penyandang disabilitas
-          Pengelolaan dan Pengembangan system, moda, sarana dan prasarana transportasi public dan transportasi pribadi yang aksesibel bagi penyandang disabilitas.
-          Merealisasikan kemudahan untuk mendapatkan dan atau memiliki tempat tinggal yang aksesibel bagi penyandang disabilitas
-          Percepatan penyelenggaraan system pendidikan inklusif dari tingkat PAUD sampai Perguruan Tinggi

-          Terjamin dan terlindunginya seluruh hak penyandang disabilitas melalui penegakan hukum yang adil dan setara

Sunday, November 20, 2016

Suara Hati di SLB Puspa Melati

Pengurus dan Relawan Suara Hati foto bersama siswa
SLB Puspa Melati.

Suara Hati merupakan sebuah kelompok relawan yang dibentuk oleh Yayasan Sayap Ibu yang beralamat di Jl. Rajawali No.3 Pringwulung Depok Sleman pada tanggal 19 November 2006. Kelompok relawan terdiri orang-orang yang mempunyai latar pendidikan yang berbeda, tetapi mempunyai satu tujuan yaitu membantu Panti Asuhan di sekitar Yogyakarta dalam mendidik, menghibur, dan membantu anak-anak yang tinggal di Panti Asuhan. Namun, semakin usianya bertambah, Suara Hati melebarkan sasarannya yaitu tidak hanya anak-anak, tetapi juga orang lanjut usia dan anak berkebutuhan khusus yang berada di seluruh Yogyakarta.
Bertepatan dengan hari ulang tahunnya yaitu 19 November, Suara Hati memperingatinya dengan cara yang spesial yaitu dengan mengadakan acara kemping di SLB Puspa Melati. Kemping yang diagendakan pada hari Sabtu dan Minggu, 19 dan 20 November 2016, tersebut melibatkan siswa berkebutuhan khusus (BK). Panitia dari Suara Hati merupakan pengurus dan relawan Suara Hati yang berjumlah 15 orang dan siswa BK yang terlibat sekitar 20 anak. Kegiatan dalam memperingati satu dekade berdirinya Suara Hati tersebut terdiri dari dua kegiatan. Kegiatan pertama pada hari Sabtu yaitu siswa BK dibagi menjadi empat kelompok, kelompok pertama yaitu siswa membuat es krim yang terdiri dari kelas rendah SDLB, kelompok kedua yaitu siswa mengikuti tata rias yang terdiri dari kelas tinggi SDLB, kelompok ketiga yaitu keterampilan membuat senter yang terdiri dari kelas SMPLB, dan kelompok keempat yaitu keterampilan mencuci motor yang terdiri dari kelas SMALB, serta pemotongan tumpeng nasi kuning dan pembagian bingkisan bagi siswa BK. Pada malamnya, kegiatan tersebut dilanjutkan dengan membakar jagung dan berbincang seputar personality. Pada hari Minggu, kegiatan kedua yaitu senam pagi dan memasak sarapan, siswa BK yang terlibat di hari Minggu yaitu siswa yang tinggal di asrama SLB Puspa Melati sekitar 7 anak. Kegiatan selama dua hari tersebut cukup mengesankan bagi siswa dan Suara Hati, pasalnya mereka dapat belajar satu sama lain di lingkungan sosial.


Thursday, November 3, 2016

DISKUSI ASPIRASI: TRANSPORTASI

Para peserta sedang berdiskusi
Mobilitas berpengaruh dengan tingkat kesejahteraan hidup manusia, semakin tinggi tingkat mobilitas semakin mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, semakin terhambat semakin rendah tingkat kesejahteraannya. Namun, realita yang terjadi pada penyandang disabilitas yang mempunyai keterbatasan tertentu dalam mobilitas dan komunikasi adalah kondisi lingkungan di sekitarnya tidak akses bagi mereka. Yang mereka butuhkan adalah positif diskriminasi, yaitu penyediaan akses khusus yang membantu mereka dalam hambatan dan mobilitas.
Dengan mengusung perihal tersebut, Komite Disabilitas DIY mengadakan diskusi aspirasi dengan tema transportasi. Transportasi berkaitan dengan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas yang secara hukum mempunyai hak yang sama. Diskusi aspirasi tersebut berlangsung pada tanggal 23 Oktober 2016 mulai pukul 10.00 sampai 13.00 WIB bertempat di Kantor Komite Disabilitas DIY yang beralamat di Gang Lurik Jalan Kingkin No.1 RT 08 Nitipuran Ngestiharjo, Jalan Wates KM 2,5 Yogyakarta. Peserta merupakan perwakilan dari komunitas yang bergerak di bidang disabilitas di daerah Yogyakarta, yaitu Difa Ojeg, SAPDA, Yakkum, Sigab, Ciqal, DMC, WKCP, DTLS, DAC, Karinakas, PPDI, HWDI, ITMI, Pertuni, dan Gerkatin.
Masukan dari penyandang tunarungu terkait dengan transportasi yaitu terkait dengan sarana dan prasarana yaitu perlu adanya visual aids berupa tanda atau rambu tertentu seperti tanda toilet untuk laki-laki dan perempuan, tanda arah ke tempat mushola, dan tanda area parkir. Visual aids berupa tanda akan lebih mudah diakses daripada tulisan. Hal tersebut karena mayoritas penyandang tunarungu tidak bisa membaca tulisan. Selain itu, hambatan dalam berkomunikasi juga menjadi salah satu hal perlu diperhatikan bahwa sebagian besar tunarungu mengalami kesulitan dalam bertanya dengan menggunakan bahasa insyarat atau bahasa oral pada masyarakat umum.
Salah satu syarat untuk mengendarai kendaraan adalah harus mempunyai SIM. Bagi penyandang tunarungu, untuk mendapatkan SIM merupakan hal yang cukup sulit didapat. Hal tersebut dikarenakan salah satu syaratnya adalah ujian tulis. Ujian tulis melibatkan kemampuan akademik baca, tulis, dan hitung (calistung), tetapi sebagian besar penyandang tunarungu tidak mampu calistung. Oleh karena itu, masukan dari penyandang tunarungu kepada pemerintah adalah sebaiknya ujian tulis SIM bagi mereka bisa diganti dengan ujian praktek atau ujian visual.
Melakukan mobilitas merupakan suatu aktivitas yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupannya secara mandiri, terutama bagi penyandang tunanetra yang hanya bisa mengandalkan jasa transportasi. Untuk mengakses jasa transportasi tidaklah mudah bagi mereka. Oleh karena itu, beberapa masukan dari penyandang disabilitas terkait hal tersebut dan sarananya, yaitu dengan tergantinya kendaraan umum dengan bus trans daerah, jumlah kendaraan umum semakin sedikit. Padahal, kendaraan umum dapat terakses di tempat manapun, sedangkan bus trans daerah hanya bisa diakses dengan menuju halte terdekat yang jarang ditemukan di daerah pinggiran. Selain itu, jarak tempuh yang dibutuhkan juga lebih lama karena sebagian besar bus trans daerah tidak langsung ke tempat tujuan melainkan menuju tempat-tempat lain. Kesadaran pengemudi dan kondektur bus trans daerah tersebut juga perlu diperhatikan karena ada beberapa kejadian yang berbahaya bagi pendanyang tunanetra. Kejadian tersebut yaitu ketika bus akan transit ke halte, pintu bus tidak dekat dengan halte, sehingga penyandang tunanetra jatuh terperosok ke bawah. Terlepas dari transportasi umum, penyandang tunanetra bisa menggunakan jasa transportasi pribadi seperti ojeg dan taksi, namun biaya yang dikeluarkan oleh penyandang tunanetra tidak sedikit.
Terkait penyandang tunanetra, lampu lalu lintas perlu dimodifikasi dengan pengeras suara agar penyebrang tunanetra dapat mengetahui waktu yang dibutuhkan dalam menyebrang. Hal tersebut perlu dlakukan karena hanya dengan mengacungkan tongkat melawat saja kurang efektif. Hal ini juga tidak lepas dari banyaknya pengendara motor yang ugal-ugalan. Terkait hal tersebut, teman penulis yang mengalami tunanetra juga mempunyai cerita terkait kisah pribadinya. Di area kampus, teman tersebut menyebrang dengan mengacungkan tongkat melawat tetapi ada saja mobil yang tetap menerjang dan menabraknya, alhasil sedikit luka lecet karena tabrakan tidak bisa dihindari.

 Pelayanan transportasi memang penting, khususnya bagi penyandang disabilitas yang notabene memerlukan perlakuan khusus. Perlakuan khusus tersebut bukan semata-mata mendeskriminasikan secara negatif bagi mereka, melainkan mendeskriminasikan secara positif agar hak untuk mendapatkan pelayanan umum setara dengan masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu, masukan terkait pelayanan umum adalah perlunya tata cara pelayanan tersebut diatur dengan melibatkan penyandang disabilitas sehingga pegawai atau penyedia jasa dapat melayani penyandang disabilitas dan perlu adanya wawasan mengenai penyandang disabilitas sebagai syarat dalam membuat SIM agar pelayanan bisa lebih baik. Hal tersebut juga perlu didukung oleh pemerintah dengan mengadakan sosialisasi dan pelatihan bagi pegawai atau penyedia jasa transportasi umum.

Monday, October 24, 2016

Hari Serebral Palsi Sedunia


Dalam memperingati World Cerebral Palsy Day yang diperingati pada minggu ke-tiga bulan September setiap tahun, WKCP sebagai salah satu komunitas yang peduli dengan serebral palsi di daerah Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan Hari Serebral Palsi Sedunia. Kegiatan tersebut didukung oleh manajemen Jogja City Mall, Komunitas-komunitas Disabilitas Yogyakarta, dan Relawan dari UNY, ISI, UII, UIN, UGM. Rangkaian kegiatan Hari Serebral Palsi dikemas dalam dua kegiatan yang berbeda, yaitu pembagian stiker dan leaflet dan puncak peringatan Hari Serebral Palsi Sedunia.

Kegiatan pertama, pembagian stiker dan leaflet berlangsung pada tanggal 16 Oktober 2016. Kegiatan tersebut dilakukan di sepanjang jalan Malioboro. Pengurus dan Relawan WKCP membagikan stiker dan leaflet kepada orang-orang yang dilewatinya dengan cara berjalan kaki menyusuri jalan Malioboro. Dari kegiatan tersebut diharapkan masyarakat umum dapat lebih mengetahui pengertian mengenai Anak Berkebutuhan Khusus, terutama Serebral Palsi. Selain itu, ada publikasi mengenai puncak acara puncak peringatan Hari Serebral Palsi Sedunia, sehingga masyarakat dapat mengisi waktu luangnya untuk mengikuti acara puncak tersebut.

Mini talkshow bersama dr. Anung
Kegiatan kedua yaitu acara puncak peringatan Hari Serebral Palsi Sedunia yang berlangsung pada tanggal 23 Oktober 2016. Bertempat di Upper Ground Jogja City Mall yang beralamat di Jl. Magelang Km 6 No.18 Sinduadi Sleman, acara tersebut menarik banyak perhatian dari pengunjung mall dan tamu undangan yang berjumlah 150 orang dari berbagai instansi seperti instansi kesehatan, instansi pendidikan, dan komunitas difabel di Yogyakarta. Adapun acara puncaknya yaitu sambutan-sambutan, mini talkshow, dan launching WKCP youth. Sambutan ditujukan kepada ketua panitia (Istiqomah), ketua WKCP (Anis Sri Lestari, S.Pd.), perwakilan Direktur Jogja City Mall, perwakilan Kepala Dinas Sosial DIY, dan perwakilan Bupati Sleman. Acara dilanjutkan dengan mini talkshow bersama dr. Anung Budi Satriadi Sp.OT, dokter spesialis bedah ortopedi pediatrik. Dalam acara tersebut, dr. Anung menjelaskan bahwa keterbatasan gerakan-gerakan anggota tubuh penyandang cerebral palsy dikarenakan ada otot-otot yang kaku. Ini bisa dibantu dioptimalkan melalui bedah ortopedi. “Melalui bedah ortopedi, jaringan-jaringan otot atau tulang dapat diluruskan sehingga mendekati sempurna dan dapat mengoptimalkan gerakan anggota tubuh penyandang serebral palsi”, imbuhnya. Hal tersebut diamini oleh moderator mini talkshow, Dr. Bambang Trisnowiyanto S.Pd, SKM, M.Or yang juga berprofesi sebagai Dosen Fisioterapi Politeknik Kesehatan Kemenkes Surakarta, bahwa penyandang serebral palsi juga memiliki potensi yang mampu di kembangkan seperti anak normal.

Launching WKCP Youth bersama Ketua WKCP
(Kiri-kanan) Rohmad, Safrina, Isti, Andika, dan Ibu Anis
Setelah mini talkshow, acara pada hari kedua dilanjutkan dengan launching WKCP Youth yang digawangi oleh Safrina Rovasita, Rohmad, Isti, dan Andika. Dalam launching-nya, mereka menjelaskan bahwa WKCP Youth merupakan wadah bagi penyandang disabilitas untuk mandiri. Dengan adanya WKCP Youth, penyandang serebral palsi yang sudah menginjak remaja dapat bergabung dan berbagi pengalamannya. Selain itu, dengan adanya kegiatan tersebut, secara tidak langsung penyandang serebral palsi juga dapat bersosialisasi dan meningkatkan rasa percaya diri sehingga kemampuan yang dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat dapat terlatih dengan baik.

Antusias para tamu undangan dan pengunjung mall dalam
mini talkshow bersama dr. Anung

Dengan rampungnya serangkaian acara yang ditujukan untuk memperingati hari serebral palsi sedunia diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat umum, hal tersebut juga dapat berimplikasi pada layanan penyandang cerebral palsi dari segi pendidikan, kesehatan, dan fasilitas yang aksesibel bagi penyandang serebral palsi di tempat umum.

Sunday, October 16, 2016

Suara Hati di Danggolo

Suara Hati, Peserta, dan Batara foto bersama.
Anak adalah seorang yang dilahirkan dan merupakan awal cikal lahirnya generasi baru sebagai penerus cita-cita keluarga, agama, bangsa, dan negara. Seorang anak berhak mendapatkan haknya untuk hidup sejahtera. Kesejahteraan tersebut tidak bisa diperoleh melalui cara yang sama karena setiap anak dilahirkan sebagai seorang yang unik dengan kebutuhan yang spesifik dan berbeda satu sama lain. Seperti halnya anak-anak yang hidup di daerah perkotaan dan pedesaan. Di daerah perkotaan, anak-anak bisa mengakses fasilitas yang dapat menunjang kebutuhan mereha sehari-hari. Namun berbeda cerita dengan anak-anak yang di daerah pedesaan, mereka mempunyai banyak tantangan untuk mengaksesnya, seperti yang dialami anak-anak di desa Danggolo Purwodadi Tepus Gunungkidul. Oleh karena itu, salah satu komunitas dari Yogyakarta, Suara Hati, mengadakan kegiatan spesial di hari minggu bagi anak-anak di desa Danggolo.
Perkenalan antara Relawan Suara Hati dengan peserta.
Suara Hati merupakan sebuah kelompok relawan yang dibentuk oleh Yayasan Sayap Ibu yang beralamat di Jl. Rajawali No.3 Pringwulung Depok Sleman pada tanggal 19 November 2006. Kelompok relawan terdiri orang-orang yang mempunyai latar pendidikan yang berbeda, tetapi mempunyai satu tujuan yaitu membantu Panti Asuhan di sekitar Yogyakarta dalam mendidik, menghibur, dan membantu anak-anak yang tinggal di Panti Asuhan. Namun, semakin usianya bertambah, Suara Hati melebarkan sasarannya yaitu tidak hanya anak-anak, tetapi juga orang lanjut usia dan anak berkebutuhan khusus yang berada di seluruh Yogyakarta.
Penyerahan buku dari Suara Hati ke Batara.
Minggu, 17 Oktober 2016, Suara Hati mengadakan kegiatan bagi anak-anak desa Danggolo. Kegiatan tersebut yaitu perkenalan, menghias cake, bermain bersama, menyanyi, pemberian bingkisan, dan serah terima buku dari Suara Hati ke Batara. Batara merupakan komunitas belajar yang digagas oleh beberapa mahasiswa UNY dengan sasaran siswa SD, SMP, dan SMA atau sederajatnya. Acara yang dimulai pukul 11.00 sampai 14.00 WIB tersebut mendapatkan reaksi positif dari peserta. Peserta merupakan anak-anak yang berusia setara dengan jenjang SD dan TK yang berjumlah 30 anak. Dalam kegiatan perkenalan, komunitas Suara Hati dan anak-anak saling berkenalan dengan menyebutkan identitas masing-masing, kemudian dilanjutkan dengan menghias cake, setiap anak mendapatkan cake beserta bahan pelengkap untuk menghiasnya. Anak-anak sangat antusias dalam kegiatan tersebut, hal tersebut dapat dilihat dari konsentrasi anak dalam menghias cake masing-masing. Acara selanjutnya yaitu bermain dan menyanyi bersama, dengan diiringi lagu Laskar Pelangi, anak-anak dan komunitas Suara Hati bermain bersama. Acara ditutup dengan pemberian bingkisan bagi semua anak dan penyerahan buku dari Suara Hati ke Batara. Seperti motto Suara Hati “in a small gift, there is a great hope”, dengan adanya kegiatan tersebut diharapkan anak-anak akan terbakar semangatnya untuk mempunyai harapan sebagai penerus bangsa yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.


Friday, October 14, 2016

Workshop Penulisan se-Gunungkidul

Foto peserta bersama Ketua Panitia (duduk-kanan)
dan Pemateri (Y.B. Margantoro, duduk-kiri)
Dalam rangka meningkatkan keterampilan menulis karya bagi guru-guru SLB di Kabupaten Gunungkidul, Kelompok Kerja Guru (KKG) SLB Kabupaten Gunungkidul menyelenggarakan Workshop Penulisan Karya Tulis dalam Majalah atau Jurnal Ilmiah. Workshop tersebut berlangsung selama empat hari yaitu tanggal 11 sampai 14 Oktober 2016. Acara yang bertempat di Aula SLB Negeri 1 Gunungkidul, yang beralamat di Jl. Pemuda Baleharjo Wonosari, diikuti oleh 90 peserta. Peserta merupakan perwakilan dari guru-guru SLB se-Gunungkidul yang terdiri dari 12 SLB Negeri dan Swasta.
Workshop yang berlangsung selama empat hari tersebut diisi oleh pemateri yang ahli di bidangnya. Pada hari pertama, acara workshop dibuka oleh Didik Wardaya (Kepala Bidang PLB dan Dikdas Disdikpora DIY) dan dilanjutkan dengan materi dari Sardiyana, M.A. Dalam menyampaikan materi, beliau menegaskan bahwa setiap guru perlu mempunyai keterampilan dalam menulis karya yang tentunya dapat diaplikasikan dalam penelitian tindakan kelas. Pada hari kedua, materi diisi oleh Redaktur Senior Harian BERNAS JOGJA, Y.B. Margantoro. Beliau menyampaikan jenis-jenis peluang yang ada di setiap surat kabar yang bisa diisi oleh karya masyarakat umum termasuk peserta workshop dan menugaskannya untuk menghasilkan karya yang nantinya bisa dipublikasikan melalui surat kabar tertentu serta menghasilkan tulisan yang akan dijadikan sebuah buku secara kolektif dengan hasil karya peserta lain. Pada hari ketiga, A.G. Irawan, Redaktur Tabloid Remaja Bias Dikpora DIY, menyampaikan materi menulis di koran. Para peserta diajak untuk membuat sebuah berita peristiwa, karya tersebut diharapkan dapat dikirim ke koran tertentu dan dapat dimuat. Dan pada hari keempat, materi Artikel Ilmiah Populer disampaikan oleh Wiji Suparno, Pengawas Bidang PLB dan Dikdas Disdikpora DIY, dan acara ditutup oleh Wahyono M.A., Pengawas Bidang PLB dan Dikdas Disdikpora DIY.

Salah satu peserta dari SLB Puspa Melati, Nizar Shela Pramuji, mengatakan bahwa workshop kepenulisan ini merupakan kali pertama workshop yang pernah diadakan oleh KKG, sehingga diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi guru-guru SLB se-Gunungkidul untuk produktif dalam menulis. “Kegiatan kepenulisan ini juga bisa menjadi bagian pendukung dalam meningkatkan keterampilan penelitian tindakan kelas bagi guru SLB” imbuhnya.

Thursday, October 13, 2016

Mereka bukan Aku (Refleksi Pola Asuh Orang Tua)

Keluarga Besar sang penulis di Pantai Setrojenar.
Berkeluarga adalah sesuatu hal yang manusiawi bagi pasangan anak cucu adam dan hawa untuk saling menjaga keturunan. Keturunan yang akan diwariskan dan dipelihara tentunya merupakan hal-hal yang bersifat baik, dalam artian tidak menentang norma sosial dan peraturan pemerintah yang berlaku serta tentunya dari andil peran agama yang dianutnya. Berkeluarga dan mendapatkan keturunan adalah hal yang didambakan oleh setiap orang tua, menyaksikan anaknya menjadi pribadi yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama juga menjadi salah satu cita-cita yang melekat pada masa depan anak. Anak yang terlahir suci, tanpa noda, bisa dibentuk apa saja seperti yang diinginkan oleh orang tua dan lingkungan sekitarnya. Tanpa menyalahkan pihak manapun, orang-orang yang mendapatkan label buruk dari masyarakat merupakan manusia yang masih bisa dibentuk, mereka adalah korban dari sistem yang belum sempurna di kehidupan yang kompleks. Selama mereka mash bernafas, mereka masih selalu bisa mendapatkan hak mereka untuk berubah menjadi insan yang mulia.
16 Juli 2016, tepatnya 10 hari pasca hari raya umat Islam, satu keluarga yang terdiri dari Kakek-Nenek (orang tua penulis), anak (saudara kandung penulis), dan cucu (keponakan penulis) menghabiskan waktu untuk menjauh dari hiruk-pikuk suasana kota dengan menyentuh air yang terhubung ke benua Australia. Tidak ada sistem yang dipikirkan, hanya naluri seorang kakek-nenek dan anak untuk meluangkan waktu untuk berbagi kebahagiaan dengan kedua cucu. Cucunya, Syifa (10) dan Rafa (5), merupakan cucu dari anak kedua kakek-nenek, mereka tumbuh dan berkembang sebagai anak yang tidak berdosa dan ingin dididik sebagai manusia yang bisa memanusiakan. Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tumbuh dan berkembang di kota kediaman kakek-nenek, Kebumen. Dengan kondisi orang tua mereka memenuhi kewajibannya sebagai buruh pabrik di kota seribu bunga, Bandung, mereka terpaksa harus tinggal bersama keluarga besar kakek-nenek dari sang ibu.
Rekreasi adalah obat yang mujarab ketika sang anak ditinggal orang tuanya untuk bekerja mencukupi kebutuhannya. Namun, obat tersebut bukanlah obat yang sepanjang masa bisa digunakan. Seiring berjalannya waktu, sang anak juga mengalami tumbuh dan berkembang dari segi fisik dan mental, mereka akan membutuhkan kehadiran orang tua dalam memberikan andil dalam kehidupannya secara langsung. Melakukan edukasi terkait kesadaran orang tua dalam mengasuh dan mengarahkan anaknya secara positif bukan suatu hal yang mudah layaknya membalikkan tangan. Proses internal dan eksternal dari orang tua sangat manjur bila digiati secara sungguh-sungguh, proses internal sendiri dapat dipelajari melalui bagaimana kesiapan orang tua dalam mendidik dan mengajar anak, misalnya kasih sayang, cinta, dan kepedulian, hal tersebut biasanya didapat melalui pengalaman secara langsung, sedangkan proses eksternal merupakan pengaruh-pengaruh dari luar yang bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas proses internal, misalnya membaca buku parenting, mengunjungi panti yatim piatu, mengunjungi panti anak berkebutuhan khusus, dan mengunjungi sel anak.


Tepus, 13 Oktober 2016 pukul 22.20 WIB

Wednesday, October 5, 2016

RAPAT KERJA WAHANA KELUARGA CEREBRAL PASLY (WKCP)

Para peserta sedang melakukan FGD per komisi.
WKCP merupakan organisasi dengan bentuk komunitas yang anggotanya terdiri dari orang tua yang memiliki anak cerebral palsy, penyandang cerebral palsy, masyarakat profesi, dan masyarakat umum yang peduli dan bergelut dengan cerebral palsy di Yogyakarta. WKCP didirikan pada bulan Maret tahun 2012 atas prakarsa beberapa orang tua anak cerebral palsy dengan akte notaris nomer 1 tanggal 12 Desember 2012 dan notaris Windri Astuti Wismi Suprihatin, S.H.
Pada hari Sabtu dan Minggu, 01 dan 02 Oktober 2016, WKCP mengadakan Rapat Kerja di Hotel Galuh yang beralamat di Jalan Manisrenggo Km 1 Prambanan Klaten. Rapat Kerja dihadiri oleh dewan penasehat (Prof. Sunartini), pengurus WKCP, dan volunteer yang totalnya berjumlah sekitar 45 peserta. Adapun acara pada hari pertama yaitu sambuta-sambutan, penjelasan secara umum mengenai WKCP (termasuk visi, misi, program, dan relawan), pendanaan, diskusi per komisi, presentasi hasil diskusi, sedangkan acara hari kedua yaitu pembacaan hasil diskusi rapat kerja, persentasi persiapan acara World CP Day oleh relawan, doa, dan foto bersama.

Pada hari pertama, acara diawali dengan sambutan dari dewan penasehat, ketua WKCP, dan dilanjutkan diskusi rapat kerja.  Diskusi Rapat Kerja WKCP membahas Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD-ART) yang berisi pasal-pasal dan ayat-ayat yang mengatur tentang penjelasan umum, kepengurusan, dewan penasehat, keanggotaan, musyawarah besar dan rapat-rapat, dan keuangan.  Selain itu, seluruh peserta dibagi menjadi 6 komisi diantaranya komisi organisasi, pendanaan, teknilogi informasi, pendidikan dan pelatihan, relawan, dan WKCP Youth. Acara pada hari pertama yang berlangsung pada sabtu siang sampai sabtu malam ditutup dengan diskusi hasil rapat kerja per komisi. Sedangkan hari kedua, acara dilanjutkan dengan pembacaan hasil diskusi rapat kerja dan diteruskan dengan presentasi persiapan World CP Day oleh relawan, serta foto bersama. 

Tuesday, September 20, 2016

Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung Serbaguna SLB Puspa Melati, Pudak, Tepus, Tepus, Gunungkidul


Peletakan batu pertama oleh Bapak Kepala Sekolah
SLB Puspa Melati

Keluarga Besar SLB Puspa Melati mengucapkan rasa syukur kepada Yayasan Kawan Sejalan dan pihak-pihak lainnya yang ikut serta mendukung dalam kemajuan pendidikan di bidang pendidikan khusus. Dan tepat pada hari Selasa, 20 September 2016, SLB Puspa Melati mendapat bantuan bangunan fisik dari Yayasan Kawan Sejalan yang bekerjasama dengan Jan Vink Stichting dari Belanda yang ditandai dengan peletakan batu pertama. Peletakan batu pertama dilakukan oleh para tamu undangan, seperti Dinas Pendidikan DIY, Dinas Pendidikan Gunungkidul, Dinas Sosial Gunungkidul, Kapolsek Tepus, Instansi Kesehatan Tepus, Yayasan Puspa Melati, tokoh masyarakat Tepus, Komite, dan segenap keluarga besar SLB Puspa Melati. Peletakan batu pertama tersebut menjadi awal berdirinnya Gedung Serbaguna yang akan digunakan untuk kegiatan olahraga bagi siswa SLB Puspa Melati. Bangunan yang memiliki ukuran 21 x 12 meter tersebut mulai dibangun pada tanggal 20 September 2016 dan direncanakan akan selesai pada bulan November 2016. Bangunan tersebut merupakan bantuan bangunan fisik kali ketiga yang diberikan oleh Yayasan Kawan Sejalan dan Jan Vink Stichting dalam mendukung kemajuan pendidikan khusus di daerah Gunungkidul. Bangunan pertama yang diberikan oleh mereka adalah gedung sekolah yang mempunyai 6 ruang dengan ukuran 9 x 6 meter persegi tiap ruangnya. Ruang-ruang tersebut difungsikan sebagai ruang kelas, ruang guru, ruang administrasi, perpustakaan, dan mushola. Bangunan keduanya yaitu asrama bagi siswa-siswi SLB Puspa Melati yang bertempat tinggal jauh dari sekolah, asrama tersebut memiliki 4 ruangan berukuran 6 x 6 meter persegi. Selain di SLB Puspa Melati, Yayasan Kawan Sejalan dan Jan Vink Stichting juga membantu kemajuan pendidikan di SLB Sekar Handayani Panggang dan SLB Suharjo Putra Patuk. Bantuan bangunan fisik terus berlanjut sampai sekolah tercukupi dengan fasilitas yang dapat membantu proses kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Sunday, September 11, 2016

Langit Tuhan di Tepus

Tepus, 9 September 2016
Pagi hari yang cerah, melihat ciptaan Tuhan yang begitu indah di atas nan jauh tak terhingga merupakan satu hal yang perlu disyukuri dalam perjalanan hidup ini. Tergores warna kuning, jingga, dan ungu yang terkombinasi di layar biru menjadi saksi bisu keindahan alam semesta ini yang tiada bandingnya. Dengan refleksi cahaya sang mentari dari ufuk timur, bangunan sekolah, pohon-pohon, dan tiang listrik beserta kabelnya terbalut warna gelap seakan mengalah dari indahnya karya Tuhan yang tidak terlihat seperti biasanya. Jumat, 9 September 2016, tepat pukul 5.16 WIB, gambar yang beresolusi 2448x2448 didokumentasikan dengan alat elektronik besutan Amerika, Apple. Gambar tersebut sengaja diabadikan ketika sang penulis sedang membersihkan halaman sekolah yang menjadi aktivitas rutin pagi saat di sekolah tercinta, SLB Puspa Melati, yang beralamat di Pudak, Tepus, Gunungkidul. Tidak seperti hari biasanya, Jumat pagi tersebut sangat cerah dan apik sehingga elemen bumi dan langit yang terpisahkan oleh ruang hampa dapat selaras menunjukkan keindahan ciptaan Tuhan yang tidak biasanya. Dalam suasana tenang dan damai serta diiringi oleh paduan suara hewan endemik, hewan peliharaan, dan hewan liar di sekitar tempat lokasi, atmosfer saat itu terasa adem di atma penulis bak menyaksikan surga yang diimpikan oleh setiap insan. Tuhan begitu maha hebat dalam menciptakan alam semesta yang tiada larangannya bagi makhluk hidup di bumi untuk bersyukur atas kehidupan yang sementara. 

Wednesday, August 31, 2016

Puncak Gunung Slamet (3.428 mdpl)


Untuk Indonesia, berkibarlah sang merah putih.
Halo pembaca, kali ini gue mau share pengalaman gue ke puncak Gunung Slamet, perjalananya lumayan panjang guys, mulai dari nyari temen barengan, rencana perjalanan yang menantang, dan pendakian bersama kawan baru. Pendaki yang awam seperti gue emang selalu kesepian buat nyari temen, harus aktif tanya kesana-kemari. Selain itu, ditambah perjalanan ke kota orang, juga lebih menantang di saat gue baru kali pertama ke basecamp Bambangan, Purbalingga. Mulai dari nyari bis, terlantar, dan dapat host yang baik hati, semuanya ngga bisa dilupain begitu saja. Terlepas dari itu, pendakian kali emang cukup familiar yaitu pendakian massal merah putih, dimana para pesertanya nanti akan mengibarkan bendera Indonesia di puncak gunung tertinggi di Jawa Tengah, yaitu 3.428 mdpl. Dengan peserta hampir 60 orang dari pendakian massal tersebut, tentunya pendakian semakin ramai ditambah dari peserta lain, suasananya pun berubah menjadi bukan pendakian, akan tetapi pasar malem, saking banyaknya lampu senter di sepanjang jalur pendakian saat dini hari, terangnya pun mengalahkan terangnya sang bintang-bintang. Pokoknya ngga nyesel pas menyaksikan momen tersebut. Oke guys, langsung ke kisah perjalanan gue dari awal sampai gue bisa ke puncak Gunung Slamet dan mengibarkan bendera Indonesia tercinta, simak berikut ini:

Perjalanan dari Jogja ke Bambangan-Purbalingga

Buat yang awam kaya gue, gue yakin perjalanan dari kota tempat tinggal ke tujuan menjadi tantangan tersendiri. Perjalanan gue pun cukup menyedihkan dan menyenangkan, ibarat paketan ya paket komplit dah. Oke, perjalanan gue kali ini ngga sendiri, tentunya dibersamai oleh temen-temen gue yang baru, baru kenal setelah mendaftar sebagai peserta pendakian massal Gunung Slamet. Kenapa bisa kenal? Sebelum mendaftar, gue pastinya tanya-tanya ke panitianya, terkait dari teknis, layanannya, biaya, dan tentunya tanya peserta dari daerah asal yang sama. Nah, dari situlah, gue dapat kontak peserta yang berasal dari Jogja dan langsung gue kontak satu per satu, ngobrol basa-basi lewat sosial media, sampai janjian ke berangkat bareng di meeting point stasiun Jombor.
Perjalanan pun dimulai, perjalanan menuju basecamp Bambangan Purbalingga kami dimulai dari Terminal Jombor. Dari Terminal Jombor, tepatnya jam 15.30 waktu setempat, kami naik bis ekonomi arah ke Terminal Magelang, waktu tempuh yang dihabiskan sekitar 90 menit dengan biayan Rp. 12.000,00 per orang, kemudian nunggu sampai ada bis ekonomi yang mengarah ke Pertigaan Secang dan biayanya Rp. 5.000,00 per orang dengan waktu tempuh bis sekitar 30 menit. Sampainya di Pertigaan Secang, jam sudah menunjukkan arah jarum ke 5 sore, kami pun agak sedikit kewalahan di Pertigaan Secang, mulai dari nunggu bis arah ke Purbalingga sekitar 30 menit, namun penantian yang lama kian tak mereda, akhirnya kami terhasut oleh beberapa oknum kernet yang menyarankan kami untuk naik bisnya ke arah Wonosobo dan tuturnya langsung bisa lanjut naik bis arah Purbalingga sesampainya di Wonosobo. Namun, setelah kami naik bis tersebut selama 15 menit dengan biaya Rp. 5.000,00 per orang, kami memutuskan turun di Persimpangan Kranggan dengan dalil salah satu teman kami akan bertemu di Persimpangan Kranggan. Dalil kami memang asli apa adanya, salah satu dari temennya temen gue berangkat dari Semarang dan memang dari awal sudah janjian ketemu di Pertigaan Secang, tapi karena terhasut dengan omongan sang oknum kernet, seperti inilah jadinya, kami terdampar di Persimpangan Kranggan. Selama kurang lebih 1 jam menunggu di Persimpangan Kranggan, akhirnya bis yang ditumpangi oleh teman kami yang berangkat dari Semarang sampai juga, kami pun bergegas naik bis tersebut yang mengarah ke Terminal Purbalingga. Sekitar 3 jam perjalanan kami lewatkan di dalam bis tersebut dengan merogoh kocek sebesar Rp. 40.000,00 per orang, kami pun sampai di Terminal Purbalingga.

Photo credit by Adi Suseno.
Perjalanan belum berakhir, sesampainya di Terminal Purbalingga, kami langsung dijemput oleh salah satu teman dari kami yang nantinya menjadi host kami selama di Purbalingga, syukurlah setidaknya bisa berhemat terkait penginapan dan konsumsi selama di Purbalingga. Tanpa ada niat memanfaatkan, keluarganya memang super baik, mulai dari penginapan, konsumsi, dan transportasi pun sudah disediakan untuk menuju ke basecamp Bambangan yang jaraknya sekitar 90 menit. Rumah tersebutlah yang akan menjadi tempat tinggal kami sebelum dan sesudah pendakian massal berlangsung.

Rumah host kami, sederhana dan bahagia.

Beraksi mendaki!

Basecamp Bambangan
Setelah melakukan perjalanan sekitar 90 menit dari rumah host kami di Purbalingga, akhirnya kami sampai di basecamp Bambangan, Purbalingga. Basecamp Bambangan merupakan salah satu tempat transit bagi para pendaki sebelum melakukan pendakian. Inilah tempat dimana kita bisa mempersiapkan perlengkapan mendaki, termasuk hal-hal yang sepele seperti buang air besar (BAB) sebelum bertahan hidup di alam selama 2 hari 1 malam.




Pos 1 Pondok Gembirung
(2.037 mdpl)
Pendakian dari basecamp Bambangan menuju Pos 1 Pondok Gembirung (2.037 mdpl) membutuhkan waktu sekitar 90 menit dengan medan tanah dan banyak pertanian warga di sekitar lereng. Di sepanjang perjalanan juga belum terlalu berat karena masih sedikit tanjakan yang curam dan ditambah di beberapa spot tersedia warung-warung yang menjual berbagai makanan dan minuman. Warung-warung tersebut tersedia di hampir setiap Pos 1 sampai Pos 7. Lanjut dari Pos 1 menuju ke Pos 2 Pondok Walang (2.256 mdpl) memakan waktu sekitar 30 menit dengan medan yang hampir sama dengan sebelumnya dan tentunya ada warung dimana kita bisa menikmati secangkir kopi panas dan gorengan yang hangat. Terkait dengan harga, harganya pasti di atas harga normal karena butuh biaya angkut dari basecamp menuju pos-pos yang dituju, semakin tinggi posnya maka semakin tinggi pula harganya. Untuk beberapa kasus, saya menyempatkan mampir di Pos 1 dan Pos 2 untuk membeli makanan yang dibanderol dengan harga yang sama yaitu gorengan Rp. 2.000,00 per gorengan dan harga buah pisang Rp. 3.000,00 per buah.

Pos 2 Pondok Walang
(2.256 mdpl)
Pos 3 Pondok Cemara
(2.510 mdpl)

Pos 4 Pondok Samarantu (2.688 mdpl)
Perjalanan selanjutnya, Pos 2 menuju Pos 3 Pondok Cemara (2.510 mdpl) dengan jarak tempuh skeitar 60 menit dengan medan yang sama dengan sebelumnya dan tentunya jalan yang dihadapi mulai menanjak ke atas dan cukup berat. Kemudian dilanjutkan dari Pos 3 menuju Pos 4 Pos Pondok Samarantu (2.688 mdpl) dengan waktu perjalanan sekitar 45 menit, pos yang terkenal angker ini terlihat biasa saja dan sangat asri dengan banyaknya pohon-pohon yang besar dan rindang. Tanpa ada pikiran negative, perjalanan langsung berlanjut ke pos berikutnya, yaitu Pos 5 Samyang Rangkah (2.972 mdpl) dengan jarak tempuh sekitar 30 menit dari pos 4 dan medannya cukup berat. Di Pos 5 ini, kami mendirikan tenda kelompok di lapangan yang cukup luas, tapi tetap waspada saat pendakian liburan seperi ini, karena banyak pendaki banyak pula tenda yang sudah berdiri.

Pos 5 Samyang Rangkah (2.972 mdpl)
Pos 6 Samyang Ketebonan (2.909 mdpl)
Dari basecamp Bambangan berangkat jam 9 pagi dan sesampainya di Pos 5 jam 5 sore. Kami pun bergegas mendirikan tenda dan masak-masak. Masakan kali ini sangat spesial buat gue, yaitu mie instan, yang sering harus gue hindari malah menjadi makanan bersama di tenda yang cukup untuk 5 pendaki. Dengan lahapnya dan penuh prasangka baik, gue pun menikmatinya tanpa menghiraukan kesehatan setelah turun dari gunung, haha. Setelah rehat dan makan malam, kami langsung bergegas istirahat malam agar dini hari bisa langsung meneruskan perjalanan ke puncak Gunung Slamet.

Pos 7 Samyang Kendit
(2.040 mdpl)
Pos 8 Samyang Jampang
(3.092 mdpl)

Pos 9 Plawangan
Jam 02.30 dini hari, tepatnya tanggal 17 Agustus 2016, kami langsung mempersiapkan perlengkapan menuju puncak dan jam 03.00 dini hari kami memulai perjalanan dari Pos 5 menuju Pos 6 Samyang Ketebonan (2.909 mdpl), Pos 7 Samyang Kendit (3.040 mdpl), Pos 8 Samyang Jampang (3.092 mdpl), dan Pos 9 Plawangan, dengan jarak tempuh sekitar 2 jam. Perlu diperhatikan bahwa di sepanjang jalur pendakian Pos 8 ke Pos 9 dan Pos 9 ke Puncak merupakan daerah non vegetasi, tidak ada tumbuhan lebat, hanya tumbuhan edelweiss dan sejenisnya, serta medannya berbatu. Sampai di puncak sekitar jam 5 pagi, dan langsung mencari spot yang bagus buat menyaksikan sunrise dari ketinggian 3.428 mdpl. Perlu diperhatikan bahwa suhu di puncak Slamet sangat dingin pada jam tersebut, gue yang pake jaket gunung tebel, celana jeans, dan sepatu gunung serta tas gendong saja masih merasakan kedinginan, apalagi yang perlengakapannya kurang dari itu, bisa-bisa kena hipotermia.
Sunrise di Puncak Gunung Slamet (3.428 mdpl)
Matahari terbit di puncak gunung Slamet memang tiada duanya selain menempati posisi puncak tertinggi di Jawa Tengah, kita bisa melihat puncak-puncak gunung yang berada di sekelilingnya seperti Puncak Gunung Sindoro-Sumbing, Merapi, Merbabu, dan sebagainya. Bersyukur atas ciptaan Tuhan YME akan menambah nikmat kita dalam menyaksikan munculnya matahari dari ufuk timur. Kemudian, kami langsung bergabung dengan para pendaki lain dan mengikuti upacara bendera merah putih dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sungguh, rasanya terharu bisa menyanyikan lagu kebangsaan di atas puncak sembari mengenang perjuangan pahlawan Indonesia dalam mengibarkan bendera kemerdekaan. Hanya doa dari kami yang bisa mengantarkan kebahagiaan para pahlawan Indonesia di rumah Tuhan YME. Semoga apa yang dicita-citakan oleh bangsa Indonesia dapat segera terlaksana dengan lebih baik dan semoga generasi bangsa Indonesia mempunyai rasa nasionalisme yang lebih besar ke depannya.

Kiri ke kanan (atas): Mas Ridwan, Mas Yanto, Adi, Yeyen, Fandi
kiri ke kanan (bawah): Mba Surna, Eka, Ari





Thursday, August 25, 2016

Gunung Api Purba - Nglanggeran (700 mdpl)

Saya berada di puncak GAP.
Gunung Api Purba yang terletak di desa Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul, merupakan gunung yang terbentuk dari pembekuan magma yang terjadi kurang lebih 60 juta tahun yang lalu. Susunan batuannya berupa andesit, lava, dan breksi andesit (sumber: Wikipedia). Gunung Api purba yang berada di ketinggian 700 mdpl ini memberikan suasana tersendiri bagi para wisatawan yang ingin mencoba naik gunung. Bagi wisata awam, pendakian dari pintu masuk sampai ke puncak membutuhkan waktu sekitar 2 jam dengan jalan santai. Di sepanjang jalur pendakian juga tersedia tempat istirahat yang nyaman dengan fasilitas toilet yang memadai. Jalur pendakiannya juga terawat dengan baik, hal tersebut bisa dilihat di sepanjang jalur hampir di semen dan setiap tanjakan diberi tali untuk pegangan, plangisasi juga sudah diposisikan di sudut-sudut persimpangan jalur pendakian. Tidak hanya itu, bagi wisatawan yang kekurangan bekal makanan dan minuman bisa mampir ke warung-warung yang berada di beberapa titik jalur pendakian.

Pengembangan Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba diawali oleh Kelompok Pemuda Karang Taruna Desa Nglanggeran sejak tahun 1999 dengan berbagai kegiatan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan di Gunung Api Purba tersebut. Sekarang, pengelolaan kawasan ekowisata tersebut dikelola oleh Badan Pengelola Desa Wisata (BPDW) yang melibatkan masyarakat dari Ibu PKK, Kelompok Tani, Pemerintah Desa dan Karang Taruna. BPDW tersebut juga didampingi oleh Dinas Budaya dan Pariwisata Gunungkidul sejak tahun 2007 (sumber: gunungapipurba.com). Pengembangan tersebut tentunya juga memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar dan meningkatkan ekonomi secara signifikan. Dengan biaya tiket masuk wisatawan lokal sebesar Rp. 15.000,00 per orang, tentunya biaya tersebut sudah mengkover biaya pemeliharaan fasilitas di sepanjang jalur pendakian.

Indahnya matahari tenggelam di arah barat. 
Sedikit cerita terkait pendakian saya di Gunung Api Purba. Pendakian kali ini merupakan kali ketiga saya menginjakkan kaki di Gunung Api Purba. Tepatnya pada tanggal 20 Agustus 2016, 2 hari setelah melakukan pendakian Gunung Slamet (3.428 mdpl), saya dan teman saya yang berasal dari Narmada, Lombok Barat, NTB mengisi waktu luang di hari Sabtu untuk mencari suasana yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Perjalanan kami dimulai dari UNY sekitar jam 13.00 WIB dan sesampainya di pos tiket masuk sekitar jam 14.30 WIB. Kami pun langsung bergegas melakukan pendakian dengan perbekalan air minum 1 liter dan roti 2 bungkus. Hampir di setiap jalur pendakian, teman saya yang sangat antusias selalu mengabadikan momen-momennya di setiap sudut, sedangkan saya hanya membayangkan betapa bersyukurnya atas nikmat Tuhan YME atas pendakian Gunung Slamet yang baru terjadi 2 hari sebelumnya. Perbedaannya sungguh jauh, ketika saya mendaki di Gunung Slamet tentunya perbekalan yang dibawa super lengkap dan logistik harus cukup untuk 2 hari 1 malam, sementara di Gunung Api Purba hanya cukup membawa air minum 1 liter dan 2 buah roti bungkus. Namun, keduannya tersebut memberikan kesan tersendiri bagi saya yang suka ketenangan dan hal-hal yang berbau alam seperti pendakian ini.


Tempat yang luas dan ramai oleh wisatawan.
Setelah melakukan dokumentasi di setiap spot, kami pun berhenti di tempat luas yang ramai untuk mengabadikan momen-momen selama di Gunung Api Purba. Di tempat tersebut, jam tangan sudah menunjukkan angka 15.30 WIB, kami pun memutuskan untuk beristirahat dan menunggu sore untuk melanjutkan ke puncak. Sekitar pukul 17.00 WIB, kami melanjutkan pendakian menuju puncak melalui jalur pendakian yang sempit dan berbatu, dan sesampainya di Puncak Gunung Api Purba tersebut sekitar jam 17.30 WIB. Lumayan banyak wisatawan yang menuju puncak untuk menyaksikan indahnya sunset dari ketinggian 700 mdpl. Di atas ketinggian 700 mdpl tersebut pula, sang merah putih berdiri kokoh di tiang dan berkibar dengan gagah berani.

Wednesday, August 24, 2016

Fase Perkembangan Pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)


Perhatian masyarakat umum terhadap dunia pendidikan luar biasa yang ditujukan bagi anak berkebutuhan khusus relatif masih baru. Menurut Mohammad Amin dan Andress Dwidjosumarto (1979) dalam Muljono Abdurrachman dan Sudjadi (1994:248), perhatian dalam pendidikan tersebut terbagi menjadi tiga fase perkembangan pendidikan ABK, yaitu fase pengabaian, fase pemberian perlindungan, dan fase pemberian pendidikan. Adapun penjabaran dari ketiga fase tersebut yaitu sebagai berikut:
1.       Fase Pengabaian
Pada zaman Sparta, anak yang mengalami kelainan dibunuh dan dieksploitasi untuk pertunjukan. Sisa-sisa eksploitasi tersebut masih berlangsung hingga saat ini, terutama pada anak yang mengalami bentuk fisik lebih kecil dari anak seusianya (kretin atau kerdil).
2.       Fase Pemberian Perlindungan
Di Cina, perlindungan bagi anak yang menyandang ketunaan telah dilakukan sejak zaman Confusius yang menganjurkan anak yang mengalami ketunaan tetap disebut sebagai anak dan tidak dibedakan dari anak seusianya.
3.       Fase Pemberian Pendidikan
Pada tahun 1500-an, pendidikan untuk ABK baru dimulai di beberapa negara. Pada decade pertama abad 19, para pemimpin Amerika Serikat seperti Horace Mann, Samuel Gridley Howe, dan Dorothea Dix menggerakkan sekolah berasrama bagi anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, epilesi, dan yatim piatu. Sekolah tersebut memberikan berbagai pelatihan dan juga memberikan perlindungan lingkungan sepanjang hidup. Pada awal tahun 1871, Samuel Gridley Howe meramalkan bahwa masa depan pendidikan ABK dapat terintegrasi dengan anak seusianya di sekolah biasa.

Sumber:
Muljono Abdurrachman dan Sudjadi. (1994). Pendidikan Luar Biasa Umum. Jakarta: Depdikbud.


Saturday, August 20, 2016

Pendidikan Kesehatan Reproduksi

Pembicara sedang memberikan materi kesehatan reproduksi.
Sesuai dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3 yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan  membentuk peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggunggjawab. Guru merupakan tenaga pendidik yang mempunyai tugas membimbing, membelajarkan, dan melatih peserta didik. Oleh karena itu, guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam sistem pendidikan nasional.
Sebagai wujud tanggung jawab terhadap kemajuan pendidikan, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY mempunyai visi yaitu mewujudkan pelayanan pendidikan yang optimal untuk mencapai kemandirian anak-anak berkebutuhan khusus dan didukung oleh salah satu misinya adalah meningkatkan relevansi daya saing Pendidikan Khusus (PK) dan Pendidikan Layanan Khusus (PLK). Anak berkebutuhan khusus memiliki keterbatasan secara khusus dalam segi fisik, mental, maupun sosial, sehingga diperlukan layanan pendidikan khusus sesuai dengan kelainannya.
Oleh karena itu, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY melaksanakan pendidikan kesehatan reproduksi bagi guru-guru yang menangani anak berkebutuhan khusus sebagai wahana pengembangan, peningkatan, dan pelayanan yang prima dalam pembelajaran khususnya kesehatan reproduksi kepada peserta didik yang berkebutuhan khusus.
Pendidikan kesehatan reproduksi tersebut dilaksanakan di University Hotel (Hotel UIN) Yogyakarta yang beralamat di jalan Anggrek 137 D (Jalan Adisutjipto Km 10), Sambilegi, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta, mulai tanggal 08 s.d. 13 Agustus 2016. Peserta dari pendidikan kesehatan resproduksi yaitu 76 orang guru yang menangani kesehatan reproduksi di SLB se-DIY. Adapun narasumbernya yaitu terdiri dari penceramah umum dari Dinas Dikpora, narasumber ahli dari PKBI DIY dan Lembaga Rifka Annisa, narasumber atau instruktur dari Dinas Dikpora DIY, Dinas Kesehatan, UNY, Polda DIY, SLB Karnnamanohara, dan SLB Negeri 1 Bantul.
Pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi bagi ABK di SLB
Seseorang berkebutuhan khusus yang memiliki kekurangan dan tidak diterima di masyarakat oleh masyarakat sekitar akan mengalami rasa rendah diri. Pada saat kondisi tersebut, apabila seseorang masuk ke dalam kehidupannya dan menerima apa adanya, maka seseorang berkebutuhan khusus tersebut akan merasa terbuka dan merasa dirinya dihargai. Namun, untuk beberapa kasus pelecehan seksual, orang-orang yang tidak bertanggungjawab akan memanfaatkan kondisi tersebut dengan memberikan rayuan atau bujukan bahkan mengancamnya agar seseorang berkebutuhan khusus mau melakukan apa yang diinginkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Dewasa ini, kasus tersebut merupakan pelecehan seksual, yaitu adanya unsur paksaan, bujukan, dan/atau rayuan dalam aktivitas seksual. Selain itu, pelecehan seksual terjadi karena kurangnya pemahaman pendidikan seksual yang meliputi cara merawat alat reproduksi, cara mengontrolnya, penyakit yang dapat menular, dan batasan-batasan dalam alat reproduksi. Oleh karena itu, seseorang berkebutuhan khusus lebih rentan dengan pelecehan seksual.
Strategi pembelajaran kesehatan reproduksi bagi ABK
            Pembelajaran reproduksi bagi ABK di sekolah khusus tidak mudah diajarkan. Hal tersebut perlu penyesuaian dalam proses KBM-nya, seperti penggunaan media yang konkret dan bahkan dengan metode demonstrasi atau praktek.  Dalam pembelajaran reproduksi juga diharuskan menggunakan istilah ilmiah atau sebenarnya, seperti penis dan vagina. Pembelajaran harus dilakukan di ruang tertutup dan adanya aturan yang mengikat dalam pembelajaran kespro tersebut, seperti bersikap terbuka, menghargai, rahasia, dan bertanggungjawab.
Permasalahan atau kasus di SLB yaitu banyaknya ABK yang tidak dapat mengontrol batasan-batasan aktivitas seksual, seperti berciuman, bergandengan tangan, berpelukan, dan berhubungan badan. Dalam ruang kelas juga bisa terjadi, seperti ABK memeluk satu guru dengan erat dan selalu bertanya tentang keberadaan gurunya. Dalam kasus ini, guru perlu meregulasi permasalahan tersebut dengan cara memberikan pendidikan kespro atau memberikan kegiatan peralihan bagi ABK. Guru juga harus peka terhadap aktivitas yang dilakukan oleh siswa, bebrapa gejala permasalahan seksual biasanya muncul saat siswa berusia remaja dan gejala-gejala yang muncul dapat diamati melalui perubahan fisik, emosi, tingkah laku, dan perhatian siswa.
Gender
            Gender merupakan status pada jenis kelamin tertentu berdasarkan nilai budaya dan sosial. Contoh gender yaitu dalam pekerjaan yang menganggap bahwa perempuan lebih lemah daripada laki-laki, sehingga terbatasnya lapangan pekerjaan yang mengkotak-kotakan untuk laki-laki dan perempuan, seperti pekerja bangunan cenderung hanya untuk kaum laki-laki dan pekerjaan rumah tangga untuk kaum perempuam. Pandangan terhadap gender ini juga menjadi faktor penting dalam kasus pelecehan seksual yang sering terjadi pada perempuan. Hal tersebut menjadi salah satu faktor mengapa perempuan lebih banyak menjadi korban pelecehan seksual daripada laki-laki.


Monday, August 15, 2016

Pelatihan dari Perancis

Mahasiswa PLB sedang mengikuti kuliah umum dari Perancis.
Pelatihan dari Perancis merupakan program kerjasama antara jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) FIP UNY dengan Hati (Handicap Indonesie). Pelatihan tersebut belangsung sejak tahun 2008 dan dilaksanakan setiap 2 tahun sekali. Pada tahun 2016, pelatihan dari Perancis tersebut mengusung tema Augmentative and Alternative Communication (AAC). AAC yaitu alat bantu komunikasi yang didesain sesuai dengan kebutuhan anak berkebutuhan khusus sehingga anak tersebut dapat termudahkan dalam mengungkapkan ekspresinya. Jadwal kegiatannya dimulai dari tanggal 01 Agustus sampai 12 Agustus 2016 dan bertempat di Ruang Sidang I FIP UNY dan Laboratorium PLB. Di Ruang Sidang I FIP, peserta mendapatkan materi AAC dan materi terkait lainnya seperti psikomotor dan orthophoni, sedangkan di Laboratorium PLB, peserta melakukan praktek dengan pendampingan pelatih dari Perancis. Pelatih dari Perancis terdiri dari tiga orang, masing-masing dari mereka berprofesi sebagai terapis psikomotor dan othophoni di negaranya.
Peserta dalam pelatihan terdiri dari mahasiswa PLB dari berbagai angkatan. Jumlah pesertanya sekitar 43 mahasiswa. Dalam pelatihan ini, mahasiswa PLB mendapatkan berbagai ilmu dan pengalaman yang tentunya tidak bisa didapatkan di bangku kuliah. Selama pelatihan, mahasiswa PLB juga mempraktekan setiap materi yang diperoleh, seperti pada materi psikomotor, mahasiswa PLB mempraktekan gerakan-gerakan tertentu untuk merasakan otot-otot yang ada di dalam dirinya. Hal tersebut menjadi tantangan bagi para mahasiswa untuk mengembangkan alat bantu komunikasi sesuai peserta didik berkebutuhan khusus. 
“Ini kali pertama saya mengikuti pelatihan dari Perancis. Dalam pelatihan ini, saya mendapatkan banyak pengalaman yang bisa saya terapkan pada peserta didik saya nantinya. Hal tersebut juga menegaskan bahwa komunikasi bagi peserta didik yang berkebutuhan khusus tidak hanya melalui verbal saja, tetapi juga perlu mengembangkan perangkat komunikasi yang bisa membantunya dalam berkomunikasi secara efisien dan efektif, sehingga apa yang dimaksud oleh peserta didik juga dapat dimaksud oleh yang lainnya”, ujar Sayidatul Maslahah, mahasiswa PLB angkatan 2014.