Per Ardua Ad Astra

  • This is Slide 1 Title

    This is slide 1 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 2 Title

    This is slide 2 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 3 Title

    This is slide 3 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

Sunday, February 22, 2015

Pembekalan PPL I

Sabtu, 21 Februari 2015, merupakan hari yang penting bagi semua mahasiswa PLB angkatan 2012. Mengapa tidak? Hari itu adalah hari dimana kita akan memasuki lapangan kerja di sekolah, menuntun secara perlahan untuk mengaplikasikan ilmu yang selama ini diperoleh dari bangku kuliah. Yap!! Tidak hanya mengaplikasikan, tetapi juga harus bisa mentransfer ilmu kita kepada semua orang. Selama kita berada di tahap PPL I, kita harus bisa mengasesmen kebutuhan anak, case conference, bimbingan ke DPL, dan membuat program individual untuk anak tersebut. Setelah itu, kita difokuskan untuk melaksanakan program yang kita buat di PPL II, artinya kita harus bertindak sebagai guru kelas di SLB. Hal yang sangat menantang bagi mahasiswa calon guru. Namun secara tidak langsung, satu demi satu sudah terlewati untuk menuju satu focus yang menjadi polemic mahasiswa, yaitu skripsi. Skripsi bagaikan ujian nasional bagi mahasiswa sarjana untuk mendapatkan gelar yang digelutinya. Ah.. apapun tantangannya, kita harus siap dan percaya bahwa kita bisa!!

Simulasi Orientasi dan Mobilitas di Kelas Tunanetra


Suka dan duka dalam menempuh kekhususan tunanetra nerupakan hal yang sangat menantang bagi kami, bagaimana tidak? Kami harus menguasai kompensatoris braille dan OM (Orientasi dan Mobilitas) dengan proses belajar yang cukup menantang kapasitas otak kami. Tapi kami senang menjalani, foto tersebut sebagai bukti cinta kami dalam menempuh kelas OM di semester enam. Ahah. Semoga cepat sukses kawan, karena kita sudah ditunggu oleh siswa-siswi tunanetra di lapangan.

Thursday, February 19, 2015

Wukirsari untuk Kali Pertama

Diskusi besar di Balai Dusun Wukirsari
Kamis, 19 Februari 2015, merupakan agenda kali pertama yang dilakukan dengan 4 kelompok KKN sekaligus, yaitu kelompok 33, 34, 35, 36. Sebelumnya kami sudah melakukan koordinasi untuk mengunjungi desa Wukirsari secara bersama-sama, dengan tempat berkumpul di Rektorat UNY jam 7.30 pagi. Tetapi berpisah pada saat keberangkatan, terutama kelompok yang sudah siap berangkat ya langsung take their trip to the Wukirsari. Kelompok 36, termasuk saya pesertanya, merupakan kelompok yang paling terakhir berangkat. Kami berangkat sekitar pukul 8.30 pagi dari Rektorat, melalui UIN SUKA, SGM, Terminal Giwangan, Ring Road, dan lurus terus di sepanjang jalan imogiri timur (eh, lupa jalannya, jalan imogiri timur atau barat ya? Hehe J), terus lurus sampai lewat jembatan dan tidak jauh sari jembatan ada petunjuk arah di atas jalan sebelah kanan, kita ambil arah belok kiri menuju SMA Negeri 1 Imogiri, dan tepat persis di sebelah sekolah tersebut ada jalan ke utara, sampailah kita di tempat tujuan yaitu Balai Dusun Wukirsari. Sekitar 1 jam perjalanan untuk sampai ke tempat ini, tentunya dari Rektorat UNY.
Setibanya kami di Balai Dusun tersebut, kami istirahat sebentar sembari menunggu beberapa teman yang masih di belakang. Disamping itu, kita sudah menghubungi Pak Lurahnya yang bernama Pak Bayu (eh, boleh dipanggil Mas Bayu juga, kan belum nikah, piss J). Karena beliau belum hadir juga, akhirnya kami memulai diskusi kelompok besar antara keempat kelompok tersebut, diskusi diawali oleh Meilani (PBI 2012) dengan mengenalkan struktur organisasi tiap kelompok dengan hasil koordinator kelompok 33 adalah Andi, kelompok 34 adalah Arya, kelompok 35 adalah Mardiyono, dan kelompok 36 adalah Adi, selain itu juga ada coordinator umum untuk ke empat kelompok tersebut, fungsinya untuk mempermudah koordinasi antara empat kelompok tersebut dalam melaksanakan program kerja yang akan dimulai pada tanggal 28 Februari 2015. Pemilihan coordinator umum sangat lama, dari mulai tunjuk-menunjuk sampai tolak-menolak, akhirnya tidak ada hasil yang bisa diharapkan atau NIL, akhirnya ada yang mengajukan diri yang menjadi coordinator umum yaitu mahasiswi pemberani yang bernama Suci dari FIP, (sedikit informasi ya: Suci dari jurusan PLS FIP, saya mengenal Suci mulai dari semester 2 saat kepanitiaan OSPEK Fakultas 2013, kemudian ketemu lagi saat OSPEK Fakultas 2014 sebagai pemandu Maba, Suci juga cukup kritis selama mengikuti kegiatan tersebut, kegiatan lain yang sudah diikuti adalah Himpunan Mahasiswa PLS, jadi saya pikir Suci dapat mengemban amanah ini dengan sangat baik dan beruntunglah karena sudah orangnya, hehe). Oh, iya, tujuan kami ke sini adalah silaturahmi dengan Pak Lurah dan desa tujuan masing-masing yang akan dijadikan tempat KKN, kemudian survey ke lokasi untuk mencari sumber informasi yang sekiranya bermanfaat untuk menentukan program kerja.
Setelah menunggu agak lama, akhirnya Pak Lurah hadir juga dan mengarahkan kami kumpul di Aula Balai Dusun untuk berdiskusi lebih lanjut, akhirnya kami mendengarkan beberapa pendapat dari beliau mengenai pengenalan desa yang akan ditempati, potensi-potensinya, problem yang masih terjadi, organisasi desa, perekonomian, kerajinan, pendidikan, dan adat setempat. Cukup banyak yang disampaikan sampai tidak ada yang menjadi focus eksplisit. Dari pihak desa mengusulkan ada 4 desa yang akan menjadi sasaran KKN, yaitu Sinded, Bendho, Karangasem, dan Dengkeng. Sesudah menjelaskan panjang-lebar mengenai hal tersebut, akhirnya ada sesi diskusi. Ah, my phone was ringing and you know who was calling me, he was Mr. Widarto (ours field supervisor from LPPM). Sorry for miscommunication between me and him, I was make a mistake to give directions are confusing to him, Ahah, I am so sorry because it was my first time here. Today was terrifying day, but I am not regret, instead I am grateful I got a new perspective from the crowd. Next, after discussion in Balai Dusun has been completed, each group go on their trip to the village of KKN’s destination and find the necessary information by visiting the local leaders firstly, such as Pak RW, Pak RT, Kyai, Paguyuban Desa, Karang Taruna and PKK. After that we went home. Thank you for today. J J J



Monday, February 16, 2015

Menerjang Batas ke Atas Sikunir



Sikunir merupakan salah satu desa yang berada di daerah Dieng, Sembungan, Kejajar, Wonosobo, dan sekaligus menjadi satu-satunya desa yang tertinggi di Pulau Jawa, yaitu terletak pada ketinggian 2.263 mdpl, disebut sebut Sikunir menjadi surganya para pencari sunrise, hal tersebut membuat Sikunir menjadi Desa Wisata. Indonesia patut berbangga atas alam Sikunir yang menakjubkan, keindahannya mampu membius berjuta mata dengan cahaya golden sunrisenya. Nikmatilah pengalaman yang tak pernah terlupakan dengan menjelajah area Sikunir dan mengejar matahari terbit bersama teman-teman Anda.

Ada apa dengan Kelompok KKN Wukirsari?

Pembekalan KKN Semester Genap 2015 di Abdullah Sigit Hall.

Tanggal 14 Februari yang dipercaya sebagai Valentine’s day bagi beberapa orang tertentu, terasa sangat berbeda bagi kelompok 36 KKN Genap. Mengapa berbeda? Tepatnya hari Sabtu tanggal 14 Februari 2015 di Abdullah Sigit Hall, merupakan hari pembekalan yang bakal hanya akan didapat 1 kali dalam seumur hidup (dalam waktu ini) J, tapi sangat menyenangkan dan antusias untuk bertemu dengan teman-teman dari berbagai jurusan dan angkatan untuk bersatu membuat kelompok KKN, serta waktu yang mengikat kami (para peserta pembekalan KKN 2015), registrasinya saja mulai jam 7.30 pagi dan berlaku sanksi bagi yang telat bahkan bisa beresiko tidak diberangkatkan KKN. Oh nooo…. Tapi kami bersyukur ada Maman yang sudah membawakan cokelat made in overseas. Lumayan buat mempererat chemistry kelompok 36. Thanks Maman for your kindness to bring the signature chocolate on that day. J
Terus apa misterinya? Ya, sebelum ada pengumuman kelompok KKN 2015, ada pemberitahuan bahwa mahasiswa dapat mengajukan proposal dan nama anggota sesuai pilihannya, dan Tim Meilani Part I (yang dulu ngajuin proposal atas nama: Mei, Galuh, Ratri, Tri, Meda, Maman, Adi, Rahman, Dewi, dan Pinasthi, eh.. satu lagi lupa *stranger), seiring berjalannya waktu dengan adanya pengumuman proposal yang diterima dan presentasi proposal tersebut, kita sudah melakukannya dengan penuh harap-harap cemas. Hari terus berjalan dan hujan sering mengguyur Jogja. Dan pada suatu hari R (Rabu) adalah hari pengumuman KKN Genap, dengan mengakses siakad online, kita dapat mengetahui tempat, kelompok, dan informasi KKN. Alhamdulillah kita ditempatkan di daerah yang sesuai dengan proposal, yaitu Imogiri, Wukirsari, Bantul. Tapi hal tersebut belum sesuai dengan harapan kami, karena nama kelompok yang tercantum diproposal sebelumnya tidak sesuai dengan nama kelompok saat ini, 4 dari kami yang bernama Ratri, Rahman, Pinasthi, dan Stranger hilang bagai ditelan bumi, mereka ditempatkan di tempat yang berbeda satu sama lain. Oh My!!! Why is so? Hanya Tuhan yang tahu. Oh iya, Tim Meilani Part II (saat pembekalan berlangsung adalah Mei, Galuh, Tri, Meda, Maman, Adi, Dewi, dan ketambahan yang tidak sesuai proposal yaitu Ali, Mba RR atau mba Dian, Chandra, dan Rinaur).
Today was guidance with DPL, dan hanya sekedar pemberitahuan terkait info observasi ke tempat KKN dan pembuatan proker/matriks. Setelah itu ada hal yang sedang diurus oleh Mei terkait mutasi atau barter antara Ratri dan Mba RR, saya kurang tau cerita sebelumnya mengapa mereka melakukan hal tersebut, tetapi hasil untuk sementara adalah 50:50, seimbang, mengapa? Kita belum mendapatkan keputusan yang bulat apakah itu sudah bisa secara pasti atau tidak. Adakah kemungkinan Tim Meilani Part III untuk selanjutnya?


Penasaran cerita selanjutnya?? Tunggu ya, Bersambung……

Saturday, February 7, 2015

Cobalah Versi Gathering BEM FIP 2014


BEM FIP 2014 merupakan salah satu organisasi yang pernah saya ikuti dan sudah menjadi bagian dari hidup saya, dimana saya menempatkan mereka sebagai keluarga kedua setelah teman kelas di area FIP. BEM FIP 2014 dengan kabinet inspirasi ini sebenarnya sudah demisioner sekitar 1 bulan yang lalu, tetapi karena tali silaturahmni yang dijaga sampai saat ini, kami pun mengagendakan kegiatan bersama yaitu “Gathering BEM FIP 2014”, yang dilaksanakan pada tanggal 6 dan 7 Februari 2015 dan bertempat di pantai daerah Gunungkidul. Gunungkidul terkenal dengan potensi pantai yang tersebar di sepanjang bibir darat bagian selatan, dan dengan keadaan geografis yang berbukit-bukit dan tersusun dari sebagian besar karang dan cadas, pantai-pantai ini mempunyai medan eksekusi yang tidak mudah, artinya kita harus mempunyai usaha ekstra untuk dapat menikmati pemandangan pantai yang jarang terjamah oleh manusia. Berdasarkan hal tersebut, kami mencari berbagai informasi melalui berbagai sumber terkait pantai yang jarang dikunjungi oleh manusia, akhirnya kami mendapatkan informasi pantai yang direkomendasikan “cobalah” oleh beberapa teman kami.
Pantai Jungwok
Pantai yang akan menjadi tujuan kami adalah pantai Jungwok, merupakan pantai yang berlokasi di sebelah timur pantai Wediombo dengan akses jalan yang masih sederhana dan ekstrem yang berjarak 1,5 kilometer dari jalan tempat parkir pantai Wediombo. Kasus yang kami hadapi adalah kedatangan rombongan kami di pantai Wediombo sekitar pukul 7 malam, sehingga kondisinya tidak memungkinkan untuk berjalan kaki sejauh 1,5 kilometer tanpa ada fasilitas penerangan atau jalan mulus, kami pun memutuskan untuk membawa kendaraan kami ke parkir pantai Jungwok. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat mengakses jalur ini, yaitu hati-hati, sebagian jalan kaki, siapkan kendaraan, driver yang handal, dan berdoa. Hati-hati, kita harus berhati-hati saat melewati medan tersebut, keadaan geografis yang berbukit membuat medan sangat ekstrem seperti jalan yang menurun tajam, tebing di sekitar jalan, dan jalan yang tidak rata. Sebagian berjalan kaki, pengguna kendaraan roda dua yang berboncengan disarankan untuk menurunkan boncengannya, karena medan yang ekstrem akan melipatgandakan beban yang ditanggung oleh si pengemudi. Siapkan kendaraan, cek kendaraan yang akan dipakai untuk melewati medan tersebut guna mengantisipasi hal-halyang tidak diinginkan, seperti rem, rem sangat penting untuk mendukung berhentinya kendaraan saat menuruni jalan yang tajam. Driver yang handal, pengguna kendaraan sebaiknya dipilih yang sering mobile(melakukan aktivitas kesana-kemari), seperti yang kami alami, salah satu rekan kami mengalami masalah di tangan (keseleo atau terkilir) saat melewati medan tersebut. Berdoa, merupakan ritual yang wajib dilakukan sebelum, saat, dan sesudah kegiatan berlangsung, hal ini akan memberikan sugesti positif untuk melakukan kebiasaan yang baik dimanapun berada. Semoga bermanfaat untuk perjalanan Anda J

Pantai Isolate, merupakan tempat tujuan utama kami.
Kegiatan yang kami lakukan saat di pantai adalah mendirikan tenda, bakar jagung, bakar ayam, makan malam, cerita/sharing, api unggun, ngopi, dan tidur. Keesokan harinya adalah bersih-bersih ke tempat sekitar tenda, bongkar tenda, makan pagi, dan menitipkan barang: tas, tenda, dan lain-lain di parkiran, setelah itu ke tujuan utama kami, yaitu pantai “Isolate” (maaf, saya lupa nama pantainya), pantai Isolate merupakan pantai yang menjadi tujuan utama kami dengan akses jalan liku-liku yang melewati bukit, ladang, persawahan, kebun, semak-belukar, karang-karang, peternakan, dan alas (jawa), yang memakan sekitar 30-45 menit dari tempat parkir pantai Jungwok. Hal tersebut akan menguras energy yang tidak sedikit, maka harus ada persiapan yang baik. Tapi jangan kuatir, hal tersebut akan terbayar oleh pemandangan alam secara alami, tidak ada bangunan atau apapun, sangat indah dengan gerbang tebing yang megah membatasi ombak yang masuk ke bibir pantai. Anda penasaran? “Cobalah”!

Perjalanan dari Pantai Jungwok menuju Pantai Isolate
Camping di Pantai Jungwok

Thursday, February 5, 2015

EDISI BERKUNJUNG KE BALI

[Edisi Bali]

            Haloo.. saya kembali, sudah beberapa hari vakum untuk menulis karena ada kegiatan yang harus diprioritaskan, maaf ya my lovely blog. Saatnya untuk sedikit menceritakan pengalaman perjalanan saya ke Bali bersama rekan-rekan PLB angkatan 2012, perjalanan yang biasanya disebut studi pendidikan ini merupakan agenda rutin tahunan yang dilakukan jurusan PLB, tapi tempat tujuan tersebut bebas, artinya tergantung kebijakan mahasiswa yang akan menjalaninya. Nah, pada kesempatan kali ini yang ditujukan bagi angkatan 2012, kami sangat antusias, terutama saya, hehe.. maklum saya lebih suka traveling yang ngga ribet, ekonomis, dan belum pernah ke luar jawa sebelumnya.
            Studi pendidikan merupakan hal yang jarang bagi saya, terakhir adalah saat saya duduk dibangku SMP di tahun 2006. Pada kesempatan kali ini, sebelumnya angkatan kami sudah membuat panitia yang kemudian menawarkan berbagai tempat tujuan, seperti Lombok, Bali, dan Malang, karena permintaan peminat yang paling banyak adalah tujuan Bali, akhirnya Bali yang menjadi sasaran tahun ini. Pemilihan memang dilakukan secara perkelas, dengan asumsi tiap kelas mempunyai satu suara yang bulat dari akumulasi pemilihan massanya dengan jumlah mahasiswa angkatan 2012 sekitar 151 mahasiswa. Namun, jumlah yang mengikuti perjalanan ke Bali sekitar 100 mahasiswa. Sedangkan harga yang dipatok untuk perjalanan adalah 820 ribu, cukup mahal bagi kalangan saya, tapi untuk perjalanan dengan teman-teman seangkatan akan terbayar lebih.

Dewata
            Ada beberapa tujuan tempat wisata yang menjadi tujuan bagi kami selama di Bali, yaitu Joger (kaos spesialnya Bali, kalo di jogja ya Dagadu), Krisna (tempat oleh-oleh dan souvenir), Dewata (tempat oleh-oleh dan souvenir), Cening Ayu (tempat oleh-oleh dan souvenir), pantai Pandawa, Garuda Wisnu Kencana (GWK), pantai Kuta, Tanjung Benoa dan teluk penyu, Uluwatu, dan Tanah Lot. Sedikit informasi, kalau mau beli jajan atau oleh-oleh sebaiknya beli di Krisna, harganya lumayan ekonomis dari Dewata dan Cening Ayu, terus kalau mau beli souvenir yang cukup lengkap dan ekonomis lebih baik di Dewata. Kasus yang saya alami adalah saat saya di Dewata yang merupakan tempat tujuan pertama di Bali, saya hanya membeli oleh-oleh saja dengan asumsi bahwa masih 4 hari di Bali, jadi harus hemat, saya sudah mencari beberapa souvenir juga dan hanya mencari tahu info harga-harganya, tapi sedikit menyesal karena tidak membeli souvenir di Dewata. Nah, sedangkan di Krisna, harga untuk beberapa oleh-oleh atau makanan lumayan ekonomis dibandingkan dari Dewata. Mungkin kalo untuk kategori oleh-oleh atau jajan, Krisna merupakan juaranya (dari Dewata dan Cening Ayu J). Tetapi kalau mau beli souvenir, ya Dewata saja, cukup lengkap dan tidak ada duanya di Krisna dan Cening Ayu. Dan yang terakhir adalah Cening Ayu yang merupakan tempat oleh-oleh dan souvenir khas Bali, saya tidak bisa merekomdasikan tempat yang satu ini, karena untuk harga oleh-olehnya cukup mahal dan variasi souvenirnya juga terbatas. Oh, masih ada satu lagi, yaitu Joger, tempat produksi kaos yang identic dengan Bali, semacam Dagadu kalau di Jogja. Harga kaos jogger lumayan menguras kantong, saya hanya membeli kaos titipan untuk kakak saya sejumlah 3 biji dengan rincian 2 kaos dewasa  dan 1 kaos balita dengan total harga 200 ribu, bahan lumayan bagus dan desain juga, tapi saya memilih untuk berhemat dulu.

Tanah Lot
Setelah itu, saya share tempat wisata ya, tempat wisata yang pertama saya kunjungi adalah Tanah Lot, tempat ini sungguh menawan dengan karang besar yang dipisahkan oleh air laut dari tepi pantai Bali. Sungguh menawan, saya suka tempat ini, ada beberapa poin plus untuk tempat ini, yaitu kebersihan, artistic, dan budaya ditengah-tengah ramainya pengujung dari berbagai negara. Saat saya berada di Tanah Lot, kebersihan dan ketersediaan tempat sampah cukup diperhatikan, saya jarang melihat sampah berkeliaran kesana-kemari, terus untuk artistiknya yang membuat tampak istimewa dan tiada duanya di tempat manapun (pokoke only in Bali), dan untuk budaya juga berjalan dengan baik, pas saya ke Tanah Lot, di sana sedang ada upacara dan tetep berlangsung tanpa menghiraukan ramainya Tanah Lot.

Pantai Kuta
Berlanjut ke tempat wisata yang kedua yaitu Pantai Kuta, yang katanya tempat yang bagus untuk menyaksikan sunset, tapi pas saya ke pantai Kuta, cuaca kurang mendukung dan sebagian besar dari rombongan hanya duduk di tepi pantai kaya orang hilang atau galau, yap, tanpa ada kegiatan aktif atau produktif hanya duduk menyawang hal-hal yang kurang bemanfaat J. Menurut saya, tidak ada hal yang special di pantai tersebut, hampir sama dengan di pantai gunung kidul.

Tanjung Benoa
Next destination is Tanjung Benoa dan Teluk Penyu yang merupakan tempat tujuan yang tak terpisahkan, layaknya adik-kakak J. Di tanjung benoa menyediakan berbagai wisata air seperti speed boat, banana boat, parasailing, jetski, sea walker, diving, dan lainnya, sedangkan saya memilih untuk tidak mecoba hal-hal tersebut karena tampak menguras kantong, sebagian besar dari rombongan kami juga tidak mecoba wahana tersebut, melainkan hampir semuanya migrasi ke teluk penyu, dengan harga jasa 50 ribu (Pulang-Pergi), kita bisa menyeberangi air laut menuju teluk penyu, terus biaya masuk ke teluk penyu sekitar 10 ribu, hal yang bisa kita nikmati adalah berbagai jenis penyu dan beberapa hewan dilindungi.


Bada dhuhur di depan masjid
Pemandangan dari Uluwatu
Oke, saatnya pindah ke tempat tujuan wisata Uluwatu, tempat yang berada didataran tinggi lumayan bagus untuk kategori pemandangan, karena sangat eksotis, anda bisa melihat pantai yang indah dari atas tebing dan dihiasi dengan artistic Bali yang unik, serta banyaknya saudara anda yang berkeliaran di tempat ini kan membawa anda memasuki dimensi lain layaknya di rumah sendiri J. Eh, yang ini tidak boleh ketinggalan, kompleks Puja Mandala Nusa Dua yang mejadi icon toleransi antar umat beragama, dimana ada 5 tempat peribadatan yang megah dan indah di satu kompleks, ada masjid, pura, gereja Kristen, gereja katolik, dan wihara.

Kano di Pantai Pandawa
Salah satu patung Pandawa
Wah, masih ada 2 tempat yang super bagi saya, yaitu Pantai Pandawa dan GWK. Untuk Pantai Pandawa, anda bisa menikmati kano dengan harga 20 ribu per orang selama 1 jam, tapi saya tidak mencoba, hehe.. alasannya sama “mahal”. Sementara rombongan kami menikmati pemandangan dan wahana air di sekitar pantai, saya dan beberapa teman saya (Yusia, Nur Cahya, Bayu, Fanisa, Tika, Aviv) memutuskan olahraga dengan jalan kaki menuju tempat yang membuat special pantai Pandawa tiada duanya, yaitu patung Pandawa, yang mepresentasikan Nakula, Sadewa, Arjuna, Bima, dan Yudistira, serta tebing yang dibentuk secara endemic dan serasa di luar negeri. J bangga menjadi bagian Indonesia.

Patung Garuda
Terus tempat wisata yang terakhir adalah GWK, I love this place, sangat mengagumkan untuk patung yang super wow, anda bisa melihat, garuda plaza, patung garuda dan patung dewa wisnu, selain itu anda juga bisa menyaksikan cerita GWK dan tarian khas bali “kecak” di GWK Amphitheater. Beberapa poin yang perlu diperhatikan adalah mencari informasi tempat wisata yang akan dikunjungi terlebih dahulu sebagai bentuk persiapan wawasan ya, hehe J jadi ngga terlalu kosong, agak berisi gitu.


Shunda Horel, room 320.
Untuk masalah tiket masuk ke semua tempat tujuan tersebut sudah tercover dari biaya awal yaitu 820 ribu. Oh, iya, termasuk biaya penginapan selama 2 hari 2 malam di Shunda Hotel, dengan 4 mahasiswa per kamar. Curhat sedikit ya, saya satu kamar bersama Nur Cahya, Widodo, dan Rahman, kita sering menyalahgunakan telepon kabel yang ada di kamar untuk mengganggu teman yang ada di kamar lain, seperti membuat keluhan palsu, memberikan peringatan ke pengguna kamar, dan lain-lain, tetapi sebagian besar menyadari bahwa itu bukan dari resepsionis, hehe J


Sambutan dari SLB
Ada satu yang tidak boleh ketinggalan, yaitu SLB Negeri 1 Gianyar, satu-satu sekolah yang dikunjungi oleh kami, seharusnya ada 2 sekolah tetapi yang satunya tidak bisa karena ada upacara adat setempat. Ada beberapa informasi penting terkait dengan SLB ini, yaitu dari segi fasilitas bangunan cukup bagus, tetapi ruang yang khusus untuk mengembangkan potensi non-akademik belum tersedia, seperti ruang artikulasi, ruang terapi, ruang musik, ruang sumber, dari segi kurikulum, menurut guru masih mengikuti keinginan anak pada saat KBM (kegiatan belajar mengajar), tetapi menurut saya guru harus membuat RPP buat KBM per hari, agar kemajuan anak bisa pantau melalui proses dan evaluasi dari guru, memang perlu untuk menyesuaikan keinginan anak, tapi akan lebih baik jika guru mempunyai panduan mengajar yang bisa menunjukkan progress. Selain itu, guru-guru SLB di sana juga perlu mendapat wawasan yang lebih mengenai PLB, hal tersebut berdasar pada saat saya bertanya kepada guru tunanetra yang background pendidikannya non-PLB mengenai orientasi mobilitas dan braille, jawabannya belum memuaskan J. Kalau boleh berpendapat, saya akui bahwa pendidikan untuk SLB di Jogja lebih diperhatikan mulai dari SDM sampai fasilitas pendukung. Tetapi di Bali juga bagus, dengan adanya pelatihan keterampilan tari daerah seperti kecak, siswa-siswa SLB ini piawai melakukannya sekaligus sebagai upaya melestarikan tarian daerah Bali. Good job J

Cukup sekian yang bisa saya bagi, semoga bermanfaat dan memberikan wawasan yang lebih, aamiin. Terima kasih J


Putra Tidur

[lingkaran] teman-teman Adi
Narsis di Tanah Lot


Saudara Anda, serasa kaya di rumah sendiri kan.
ps. maaf gambarnya dibuat ukuran kecil, jadi pecah-pecah kalo diperbesar..