Per Ardua Ad Astra

  • This is Slide 1 Title

    This is slide 1 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 2 Title

    This is slide 2 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

  • This is Slide 3 Title

    This is slide 3 description. Go to Edit HTML and replace these sentences with your own words. This is a Blogger template by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com...

Tuesday, December 30, 2014

Goresan di Pasir Pantai

Sabtu, 27 Desember 2014, kami yang terdiri dari Dewi, Ana, Rahman, Widodo, dan Aku, sudah merencanakan jauh hari sebelum keberangkatan untuk bersilaturahmi ke kediaman Dewi sekaligus kediaman Rahman yang kebetulan 1 kota, Purbalingga. Kami memang merencanakan sudah sekitar 1 bulan terakhir dengan menentukan tanggal yang fluktuatif, mulai tanggal 25, kita sudah oke, eh, ternyata ada agenda di WKCP yang menyakutpautkan Dewi, Widodo, dan Aku harus terbang ke sana, kemudian tanggal 26, eh abstain karena tanggal 27 pas ada acara kampus dari yang mengait Widodo di Musyang Reality dan aku di launching buku yang akhirnya ditangguh. Akhirnya isbat agenda jadi berangkat ke Purbalingga tanggal 27 desember 2014 setelah (bada) dhuhur, tempat transit dan keberangkatan dari kampus mandala, kenapa di Kampus Mandala? Hehe.. satu-satunya yang ada acara cuma Widodo dengan musyangnya yang bertengger di Kampus Mandala.
Tanpa ada buram disengaja tapi realita, Aku tidak bisa membersamai mereka karena sedang terkapar layaknya ikan yang dijaring nelayan, kurang oksigen, begitu menyiksa, dan hanya pasrah. Hanya jarring yang menjadi tempat terakhir dan terindah bagi ikan tersebut untuk mengantarnya ke surga, tapi saya tidak, saya hanya butuh istirahat untuk mengumpulkan senyawa yin dan yang meredup secara radikal. Hakikatnya, mereka mau tak mau melangsungkan perjalanan. Kehilangan satu momen lagi bagi aku tentunya. "Bukan ironis, bukan skeptis, dan bukan apatis, apalagi anarkis, no… hanya sedikit melankolis."

Oh my!!! aku suka dengan goresan yang menghias pasir pantai tersebut, terima kasih kawan, setidaknya terbesit harapan nyata akan mengurangi rasa lelah untuk hari ini dan esok, tanpa banyak harapan palsu, saya akan memberikan salam balik dari suatu tempat yang berbeda dari itu. Kapan? Biar waktu yang menjawab, tapi saya menjawab “secepat saya berdiri, saya akan segera berdiri; secepat saya berjalan, saya akan segera berjalan; bahkan secepat saya bisa berlari, saya akan segera berlari, ini bukan hanya masalah kecepatan melainkan keikhlasan”.

Friday, December 26, 2014

Pelatihan Sensori Integrasi di WKCP

Kamis, 25 Desember 2014, Hari ini merupakan hari raya Natal yang sedang dirayakan oleh kaum atau jamaah Kristen, dengan banyaknya jumlah kendaraan yang berlalu lalang sembari menandakan isyarat bunyi klakson yang saling bersautan di sepanjang perjalanan dengan trayek yang tidak begitu buruk, mereka sangat antusias saling mengejar waktu untuk sampai ke tujuan mereka masing-masing. Begitu juga dengan aku, dengan mengendarai kuda besi berbaju putih-merah dengan mata yang terang, kami (aku dan kuda besi) bergegas cepat berlenggak-lenggok layaknya di panggung cat walk, mengarungi para buaya besi yang saling mengantri bagaikan mendapatkan kupon lotre. Siang sudah tak terasa, jam yang melekat ditangan pun menjunjukkan bahwa dia benar-benar berjalan dan tersenyum dengan jarum pendek di angka 8 lewat dan jarum panjang di angka 6 tepat.  Pikiran sudah jauh melayang dengan ekspetasi “telat” memenuhi isi otak ini karena hanya untuk melakukan aktivitas sebagai volunteer di Pelatihan Sensori Intergrasi (SI) di WKCP.
Waktunya serius!! Hari ini merupakan hari untuk pelatihan SI bagi orang di WKCP, kegiatan yang berlangsung adalah materi SI dan diskusi antara orang tua dengan terapis dari Rumah Sakit Condong Catur (RSCC), yaitu bu iik, kemudian disusul dengan kegiatan pelatihan bagi orang tua dalam memberikan penanganan SI kepada anaknya yang mengalami gangguan Cerebral Palsy (CP). “Sensori Integrasi (SI) merupakan latihan yang bisa dikembangkan di rumah dan dapar dilakukan secara langsung oleh orang tua si anak, sehingga lebih banyak waktu yang tersedia untuk selalu memberikan rangsangan atau stimulus kepada anak, hal tersebut diharapkan dapat membeikan manfaat bagi perkembangan anak menuju kea rah yang positif, tentunya untuk melakukan program tersebut perlu pendampingan terapis secara intensif.” Ujar bu iik.
Banyak orang tua yang mempunyai asumsi bahwa program tersebut harus dilakukan oleh yang ahli agar benar-benar terpantau, tetapi hanya mengandalkan sang ahli bukan merupakan kewajiban yang serta merta harus dilakukan, karena sebagian besar aktivitas anak bersama orang tua atau kerabat dekatnya, bukan dengan sang ahli, sang ahli hanya lebih mendalami tentang dunia keahliannya, secara kualitas ya, tapi tidak secara kuantitas. Oleh karena itu, bu iik menekankan bahwa perlunya orang tua bisa memberikan penanganan secara terpadu di rumah merupakan langkah awal yang baik, tentunya dengan pantauan sang ahli melalui coretan pulpen di atas kertas sebagai perantara informasi.

Apa saja alat dan bahan yang bisa di gunakan untuk latihan sensori integrasi bagi anak?
Di WKCP ada berbagai macam alat yang mempunyai fungsi yang hampir berbeda, seperti papan keseimbangan untuk melatih anak dalam menyeimbangkan posisi tubuh, ayunan untuk merangsang genggaman gerakan otot tangan, bola terapi untuk melatih ketangkasan anak, panjat-prosotan untuk melatih ketangkasan kaki dalam menyesuaikan permukaan jalan, puzzle untuk melatih koordinasi sensori dan motoric, manik-manik untuk melatih keterampilan motoric halus anak serta mengasah keterampilan dalam meronce, dan sebagainya. Apabila anak di rumah tidak mempunyai fasilitas seperti diatas, orang tua dapat berkreasi sendiri, seperti menggunakan bantal guling sebagai pengganti bola terapi. Pada intinya adalah memberikan aktivitas yang mendukung proses perkembangan anak, sengan semakin banyak dan sering stimulus yang positif, semakin cepat anak mengalami perkembangan yang baik.
Bagaimana dengan anak yang belum bisa diarahkan (patuh), mereka masih suka asyik dengan dunianya sendiri?
Tentunya dalam memberikan aktivitas ke anak tidak langsung secara pasti harus dilakukan, kadang butuh penyesuaian bagi anak, seperti memberikan kesempatan anak bermain sendiri terlebih dahulu, kemudian diberikan arahan untuk latihan yang akan dituju. Apabila anak masih asyik dengan dunianya sendiri, perlu adanya aktivitas untuk mengalihkan perhatiannya, misal menggunakan benda kesukaannya.
Bagaimana dengan kebosanan yang melanda pada saat pelatihan ke anak?
Memang benar, dalam memberikan penanganan kepada anak cerebral palsy, hasilnya tidak langsung tampak, banyak anak yang membutuhkan proses yang diulang-ulang sampai 1 minggu, 1 bulan, 1 tahun, bahkan 1 windu. Hal tersebut memang diperlukan kesabaran yang ekstra, tetapi orang tua juga manusia biasa, pasti ada batasan dalam hal kesabaran. Hal yang perlu diperhatikan adalah banyak bahan dan kreatifitas yang bervariasi yang setidaknya dapat mengurangi rasa bosan, seperti hari ini adalah aktivitas meronce menggunakan manik-manik, sedangkan hari besok meronce menggunakan biji-bijian. Orang tua juga bisa melakukan eksperimen tersendiri, tentunya tidak lepas dari program yang saat itu sedang dilakukan.

PS. Volunteer yang datang hari ini adalah Meisya, Dewi, Fathin, Aku, Zain, Yeni, Mba Ichun, dan Widodo, didampingi juga oleh pengurus WKCP bu Reni. Terima kasih untuk hari-hari yang bermanfaat bersama kalian, break a leg!! Cukup sekian dulu dari aku, Adi Suseno.

Sunday, December 21, 2014

Diffable Fair 2014 PLB UNY di Taman Budaya Yogyakarta

Pelepasan balon dalam memperingati hari difabel internasional.
UNY merupakan salah satu perguruan tinggi yang berkompeten di bidang Pendidikan Luar Biasa (PLB). Dalam memperingati Hari Penyandang Cacat Internasional atau Hari Difabel Internasional yang ditetapkan pada tanggal 3 Desember oleh Majelis Umum PBB melalui Resolusi Nomor 47/3 tahun 1992, pada hari sabtu pagi kemarin, 20 Desember 2014, Himpunan Mahasiswa (HIMA) PLB melangsungkan acara puncak Diffable Fair 2014 yang bertema “Satu Nusa Ku, Satu Bangsa Ku, Indonesia Tanpa Diskriminasi” di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Tujuan serangkaian acara ini adalah untuk mengkampanyekan pemahaman tentang masalah-masalah difabel, meminimalisir diskriminasi dalambentuk apapun, menggalang dukungan untuk memperjuangkan hak dan kesejahteraan difabel, serta memperjuangkan kesadaran masyarakat mengenai kaum difabel dalam setiap aspek kehidupan.
Diffable Fair 2014 di TBY merupakan puncak dari serangkaian acara Seminar PLB, Pelepasan Burung, dan Longmarch di Malioboro. Sebelumnya, acara Seminar PLB berlangsung di Kampus Pusat FIP UNY pada tanggal 6 Desember 2014, acara pelepasan burung dilakukan di sekitar air mancur rektorat UNY dengan melepaskan 100 ekor burung emprit pada tanggal 10 Desember 2014, dan longmarch yang dilangsungkan di Malioboro pada tanggal 13 Desember 2014 disertai dengan pembagian bunga, flashmob, dan kegiatan cap tangan sebagai bentuk partisipasi dalam menolak diskriminasi penyandang difabel.
Sebagai acara penutup atau puncak dari serangkaian acara sebelumnya, HIMA PLB UNY menghadirkan berbagai acara yang menarik di puncak Diffable Fair 2014, dengan pelepasan balon sebagai pembukaan acara puncak, standisasi HIMA PLB memberikan informasi terkait media pembelajaran anak berkebutuhan khusus (ABK), lomba drumband, melukis, dan mewarnai gerabah yang diikuti oleh siswa-siswi SLB se-DIY, serta pengumuman dan pemberian kenang-kenangan kepada pemenang lomba, selain itu juga ada pentas seni dari beberapa siswa SLB yang menampilkan tari, band, biola, nyanyi, dan juga penampilan dari mahasiswa tunanetra PLB UNY, acara tersebut ditutup dengan guesstar dari DIFFCOM, Intuisi Band, dan Fantasy Band. Peserta acara tersebut bersifat umum yang terdiri mahasiswa UNY, dosen, siswa-siswi SLB se-DIY, beberapa komunitas penyandang difabel, masyarakat sekitar, dan beberapa mahasiswa PLB dari Universitas Islam Nusantara (Uninus).


Monday, December 15, 2014

Longmarch Mahasiswa UNY di Malioboro

aksi cap tangan disele-sela longmarch sebagai upaya melawan diskriminasi.

Dalam memperingati hari difabel internasional, pada hari sabtu kemarin, 13 Desember 2014, Himpunan Mahasiswa Pendidikan Luar Biasa (HIMA PLB UNY) mengadakan aksi longmarch yang bertemakan “Indonesia tanpa diskriminasi”, sebagai upaya melawan diskriminasi dalam bentuk apapun baik bagi masyarakat secara umum ataupun masyarakat yang menyandang difabel. Aksi longmarch dilakukan di sepanjang jalan malioboro yang dimulai dari Dinas Pariwisata DIY menuju Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Aksi ini diikuti oleh mahasiswa UNY, dosen, siswa dari Sekolah Luar Biasa (SLB), serta masyarakat sekitar, beberapa mahasiswa UNY dan siswa SLB juga mengenakan pakaian adat dari beberapa daerah, seperti pakaian adat dari Aceh, Bali, Sulawesi, Medan, Betawi, dan Kalimantan. Meskipun turun hujan, hal tersebut tidak mengurangi semangat mereka untuk aksi di sepanjang jalan dengan membagikan bunga plastik kepada masyarakat yang ada disekitarnya, kemudian dilanjutkan dengan flash mob di nol kilometer dan finish longmarch di museum sonobudoyo. Di museum  tersebut, acara kembali dilanjutkan dengan aktivitas cap tangan sebagai bukti upaya tanpa adanya diskriminasi dalam apapun. Demikian serangakian aktivitas yang dilakukan pada hari minggu sore sampai menjelang malam dalam memperingati hari difabel internasional

Thursday, December 11, 2014

WKCP berlibur ke Prambanan


Keluarga Cerebral Palsy (WKCP) merupakan wadah, sarana atau tempat bagi orang tua yang mempunyai anak berkebutuhan khusus, khusunya anak cerebral palsy, dengan cara berbagi ilmu, pengalaman, cerita, sehingga terdapat komunikasi yang bermanfaat untuk ke depannya.
Pada hari minggu, 30 November 2014, WKCP mengadakan diskusi bulanan yang secara rutin berpindah tempat, diskusi  bulan November dilaksanakan di Prambanan, diskusi ini meliputi sarasehan bagi orang tua untuk bersilaturahmi sekaligus mendapatkan materi dari tamu undangan, yaitu ibunda dari Safrina, Safrina merupakan salah satu penyandang Cerebral Palsy yang dapat menjawab tantangan bahwa dia bisa menunjukkan potensinya, Safrina telah menempuh gelar sarjana pendidikan luar biasa di UNY, serta sedang meneruskan magister Psikologi di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.  Diskusi dimulai dari pengalaman ibunda dari Safrina selama mendampinginya sampai saat ini, baik asam, pahit, dan manis sudah pernah dirasakan, seperti ditolak dari sekolah umum dan perjuangan dari respon masyarakat yang belum mengetahui dunia luar biasa.
Sementara orang tua sedang diskusi, anak-anak di damping oleh volunteer WKCP, yang terdiri dari mahasiswa dan non mahasiswa, kebanyakan berasal dari UNY, UIN Sunan Kalijaga, UGM, dan beberapa ada yang dari UNNES, anak-anak didampingi untuk berkeliling di sekitar Prambanan, memberi makan rusa, bermain air, menikmati alunan gamelan, serta tarian tradisional dari Jogja. Siapa sih nama volunteernya? Namanya adalah Icun, Rakhma, Vha, Yeni, Fani, Dewi, Mesya, Widodo, dan Adi. Walaupun masing-masing mempunyai kesibukan tersendiri, baik dari tugas kuliah ataupun non kuliah, mereka masih bisa memprioritaskan dan berkontribusi di kegiatan tersebut. Wah, keren ya… mereka sudah start berinteraksi dengan masyarakat secara langsung, semoga bisa menjadi bekal dan pembelajaran yang positif untuk ke depannya.

Saturday, December 6, 2014

Capacity Building Tutor BIPA dan Student Volunteer UNY 2014


Kantor Urusan Internasional dan Kemitraan (KUIK) UNY merupakan kantor yang menaungi berbagai urusan dan kerjasama bidang di pendidikan serta non pendidikan, baik dalam negeri maupun luar negeri. Di dalam negeri, UNY selalu mengembangkan kerjasamanya dengan sekolah, universitas, lembaga social masyarakat, serta perusahaan, hal ini dilakukan untuk mengembangkan jaringan informasi serta memberikan kesempatan mahasiswa UNY untuk menyalurkan potensinya, sedangkan di luar negeri, UNY mempunyai peran yang medunia dengan semboyan “on the move to the World Class University” dengan upaya mengembangkan jaringan informasi secara global serta berkontribusi di era globalisasi melalui kerjasama internasional  dengan universitas terkemuka di dunia.
Adanya kerjasama dengan universitas di luar negeri, UNY selalu menerima mahasiswa asing dari berbagai Negara untuk menunjukkan eksistensinya secara mendunia. Untuk mensukseskan hal tersebut, UNY mempunyai berbagai program untuk mahasiswa asing dengan bantuan sekaligus mengkaryakan mahasiswa UNY. Mahasiswa inilah yang akan menjadi Tutor BIPA dan Student Volunteer bagi mahasiswa asing tersebut, peran Tutor BIPA adalah memberikan layanan yang baik di bidang akademik kepada mahasiswa asing, seperti belajar bahasa indonesia, sedangkan peran Student Volunteer adalah memberikan layanan yang baik di bidang non akademik, seperti global culture festival.
Namun, agenda capacity building ini ditujukan untuk Tutor BIPA dan Student Volunteer, sebagai upaya up grading serta memperbaharui semangat dalam menjalankan tugasnya. Agenda ini diselenggarakan jumat pagi sampai sabtu sore pada tanggal 5 dan 6 Desember 2014 dengan lokasi Rektorat UNY dan Desa Wisata Bleberan, Gunungkidul. Agenda di Rektorat UNY meliputi materi Public Relation dan Etika Pergaulan yang disampaikan oleh Lusi Lukita (Professional MC/PR) yang membahas bagaimana seorang individu dapat menempatkan etikanya dengan baik serta dapat menjaga hubungan nyaman dengan memperhatikan public relation, dan materi selanjutnya adalan Cross Culture Understanding (CCU) yang disampaikan oleh Suwarsih Madya (Wakil Rektor IV UNY) yang membahas pergaulan internasional, pengalaman beliau saat berkunjung diberbagai Negara, pemahaman budaya secara global, serta kecintaan terhadap tanah air sebagai identitas diri. Sedangkan agenda di Desa Wisata Bleberan meliputi sarasehan, diskusi, homestay, materi tentang pemahaman komunikasi yang disampaikan oleh Ing Satoto, Senam, Outbond, Tracking, Body Rafting, dan presentasi hasil diskusi.


Body Rafting di sela-sela kegiatan Capacity Building

P.S. do you know the special someone who can make me take breath away? i just wanna be a good friend with you (if you want it too), and yes, i have saw you on that day and you so impressed me, you tell me that you found my blog, so i'll shy if you read this postscript, please reply or tell me if you already read, i just to ensure that you know what i mean. Regards and Thanks :)

Thursday, April 24, 2014


Aksesibilitas Penyandang Disabilitas
Oleh Adi Suseno

Latar belakang
Setiap warga berhak mendapatkan kesempatan untuk menikmati pembangunan, salah satunya adalah penyediaan fasilitas umum. Penyediaan fasilitas umum merupakan hal penting agar dapat menunjang dan mempermudah kegiatan. Fasilitas umum tidak hanya untuk warga yang memiliki tubuh normal tetapi juga para penyandang disabilitas. Sebagai warga negara, penyandang disabilitas mempunyai persamaan hak mendapatkan kemudahan untuk memanfaatkan hasil pembangunan di negaranya. Oleh karena itu, pemerintah mengeluarkan Undang-undang RI Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat sebagai kepedulian terhadap penyandang disabilitas, adapun penjelasan Pasal 10 ayat 1, menyatakan: "Penyediaan aksesibilitas bagi penyandang cacat diupayakan berdasarkan kebutuhan penyandang cacat sesuai dengan jenis dan derajat kecacatan serta standar yang ditentukan. Standardisasi yang berkenaan dengan aksesibilitas ditetapkan oleh instansi yang berwenang. Penyediaan aksesibilitas berupa fisik dan non- fisik, antara lain sarana dan prasarana umum serta informasi yang diperlukan bagi penyandang cacat untuk memperoleh kesamaan kesempatan."
Berbagai hambatan aksesibilitas di tempat umum dapat membuat penyandang disabilitas merasa rendah diri menghadapi kenyataan, berbagai bangunan dan fasilitas yang disediakan bagi kepentingan umum tidak selalu sesuai dengan kondisi penyandang disabilitas, bahkan ada yang tidak memungkinkan bagi penyandang disabilitas untuk bergerak dalam situasi normal, baik di bidang pendidikan, pekerjaan, maupun rekreasi, contohnya adalah trotoar tidak ada di setiap jalan, lantai yang terlalu licin, tidak tersedia tempat parkir yang sesuai, tidak tersedia lift, dan tangga yang tidak berpagar. Hal tersebut menjadi masalah bagi penyandang disabilitas dari jenis gangguan atau kelainan yang berbeda satu sama lain, sehingga mereka tidak mendapatkan kesamaan haknya sebagai warga masyarakat. Seharusnya para penyandang disabilitas dapat bergerak di dalam lingkungannya yang sama dengan warga masyarakat lainnya, memperoleh kesempatan yang sama untuk beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari dan dapat mandiri sesuai kemampuannya. Oleh karena itu, tersedianya fasilitas yang dapat diakses oleh semua orang merupakan persamaan dan keadilan hak yang akan memberikan kenyamanan bagi semua warga masyarakat.

Pembahasan
Di Indonesia, aksesibilitas di tempat umum untuk penyandang disabilitas masih terbatas, berbagai bangunan dan fasilitas yang disediakan bagi kepentingan umum tidak selalu sesuai dengan kondisi penyandang disabilitas. Menurut Didi Tarsidi (2008:9), Aksesibilitas adalah kemudahan yang diberikan kepada para penyandang cacat, berupa pengadaan atau modifikasi sarana dan prasarana kehidupan sehari-hari, termasuk lingkungan fisik, yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan penyandang cacat, agar mereka dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Adapun menurut Menurut Handoko (tanpa tahun:134), Aksesibilitas adalah kemudahan yang disediakan bagi penyandang cacat guna mewujudkan kesamaan kesempatan dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan. Aksesibel adalah kondisi suatu tapak, bangunan, fasilitas, atau bagian darinya yang memenuhi persyaratan teknis aksesibilitas.
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 Tentang Penyandang Cacat, Pasal 1 ayat 4, Aksesibilitas adalah kemudahan yang disediakan bagi penyandang cacat guna mewujudkan kesamaan kesempatan dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan. Sedangkan menurut Kristyan Dwijosusilo (2011:29), ditempat lain, Undang-Undang No. 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik pada pasal 4 disebutkan bahwa azas pelayanan publik diantaranya kesamaan hak persamaan perlakukan/tidak diskriminatif dan pelayanan yang menyediakan fasilitas dan perlakuan khusus bagi kelompok rentan.
Hal tersebut berarti, undang-undang di atas mengamanatkan agar pemerintah berupaya melakukan perbaikan pelayanan dan fasilitas publik guna memenuhi kepentingan seluruh masyarakat termasuk para penyandang disabilitas. Dan  dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengadaan aksesibilitas dapat memberikan kemudahan untuk penyandang disabilitas dalam melakukan setiap aktifitas sehari-hari dengan mandiri, sehingga mereka memiliki kesempatan dan peluang yang sama dalam memperoleh pendidikan, pekerjaan dan kesempatan lain yang dapat dirasakan oleh setiap warga negara. Namun, banyak ditemukan bangunan dan fasilitas umum yang belum aksesibel bagi penyandang disabilitas yang seharusnya mendapatkan kesetaraan dalam melakukan aktifitas di area publik. Hal tersebut akan mempengaruhi hak penyandang disabilitas dalam mendapatkan pekerjaan, seperti yang dikemukakan oleh Handoko (tanpa tahun:132), dan dari artikel Penyandang Cacat dan Pekerjaan yang ditulis oleh Johanes Papu, dikatakan jumlah penyandang cacat yang memiliki pekerjaan hanya berjumlah 20%. Minimnya jumlah tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yang menghambat, salah satunya adalah tidak memadainya aksesibilitas yang aksesibel bagi penyandang cacat. Sejalan dengan hal di atas, yang dimaksud dengan aksesibilitas adalah lingkungan yang dapat sesuai dengan penyandang disabilitas, dan penyandang disabilitas dapat menggunakan bangunan dan fasilitas yang terdapat di dalamnya tanpa bantuan atau mandiri.

Penutup
Lingkungan yang ramah dan bersahabat merupakan harapan setiap manusia, aksesibilitas merupakan salah satu bukti nyata untuk menciptakan lingkungan yang demikian. Penyediaan aksesibilitas tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh penyandang disabilitas saja, namun bisa juga dirasakan oleh seseorang yang sudah berada pada usia lanjut. Aksesibilitas memberikan kemudahan bagi penyandang disabilitas dalam melakukan aktifitas sehari-hari sehingga kemandirian dan kenyamanan bisa dirasakan. Dan untuk menciptakan interaksi dengan lingkungan yang nyaman. Penyediaan fasilitas yang aksesibel bagi penyandang disabilitas di Indonesia masih terbatas, namun beberapa fasilitas umum yang baru sudah menerapkan syarat aksesibilitas di dalamnya. Dengan adanya aksesibilitas untuk penyandang disabilitas, membuka kesempatan untuk penyandang disabilitas dalam melakukan kegiatan yang sama seperti orang yang tidak mengalami disabilitas, sehingga kegitan sehari-harinya dapat dilakukan dengan mandiri. Pengadaan aksesibilitas bukan merupakan tanggung jawab pemerintah saja, namun masyarakat juga dapat mulai merespon dan peduli terhadap masalah ini.

Daftar pustaka
Dwijosusilo, Kristyan. 2011. Memaksimalkan Aksesibilitas Penyandang Cacat Dalam Pelayanan Publik. Surabaya: Universitas Dr. Soetomo. Dalam jurnal Spirit Publik Vol. 7 No. 1 Hal. 29-44, ISSN. 1907-0489 April 2011.
Handoko. Tanpa Tahun. Aksesibilitas Publik Bagi Penyandang Cacat di Indonesia. Tangerang: Universitas Pelita Harapan.
Tarsidi, Didi. 2008. Aksisibilitas Lingkungan Fisik bagi Penyandang Cacat. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 Tentang Penyandang Cacat

Saturday, March 15, 2014


BEM FIP UNY
     Inilah rasanya menjadi seseorang yang diamanahkan menjadi pengurus BEM FIP UNY 2014, begitu mengesankan dan terkenang, mulai dari hal-hal yang tidak baik sampai yang baik. Yap, Inilah organisasi, Pro-Kontra sudah menjadi hal yang sulit dilepaskan, entah itu dari internal atau eksternal, seperti halnya yang terjadi saat ini, pada awal kepengurusan BEM FIP sudah mulai duji bagaimana kesolidan mereka jika mendapat masalah, dengan adanya hacker yang mengusili Media Sosial BEM FIP, tampaknya agak berhasil untuk memecah kesolidan internal BEM FIP. Mulai dari berprasangka yang aneh seperti hacker adalah salah satu anggota Ormawa FIP dan sebagainya. Nyaris saja ada sebuah perpecahanan dan korban prasangka sebelum hacker tersebut mengembalikan Media Sosial BEM FIP, tetapi yakinlah setidaknya Tuhan Maha Mengetahui dan kebaikan selalu berpihak kepada orang-orang yang benar. Disisi lain, banyaknya proker yang melanda tiap departement membuat kelenggangan pengurus BEM FIP, entah apa yang harus dilakukan, inilah realita yang benar-benar terjadi, bebalik 180 derajat dari Up Grading dan LKMM pada awal kepengurusan. Proses ini memang berjalan sangat panjang dan menguras pikran, energi, dan perasaan. Tetapi saya sendiri sebagai staff PSDM yakin akan ada rasa kehilangan disaat kepengurusan ini berakhir, karena inilah proses yang harus ditanamkan sebagai pengurus untuk mendengarkan, memahami, dan menyayangi satu sama lain dalam suatu organisani. Dan tidak akan ada rasa benci tanpa ada rasa cinta, dan sebaliknya, tidak akan ada rasa cinta tanpa rasa benci. Bagaikan sebuah koin, dua sisi berlawanan yang saling mengisi satu sama lain dan menjadikan sebuah kesatuan yang utuh.


Monday, February 17, 2014

Pendidikan Berbasis Masyarakat di Indonesia



Pendidikan seharusnya dapat dimaknai sebagairuang terbuka, dengan kata lain semua orang harus mendapatkan haknya dalam hal pendidikan. Di Indonesia, pendidikan belum sepenuhnya merata disetiap daerah, seperti halnya di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal, penduduknya belum mendapatkan hak dalam pendidikan. Untuk mendapatkan haknya, mereka harus berjuang dengan tantangan, berjalan puluhan kilometer, berenang untuk melewati sungai, dan sebagainya. Hal tersebut akan membutuhkan waktu dan energi yang ekstra. Oleh karena itu, solusi untuk mendapatkan hak pendidikan yaitu dengan diadakannya pendidikan secara nonformal bagi masyarakat, yaitu pendidikan berbasis masyarakat yang disesuaikan dengan kondisi pada masyarakat setempat.
Pendidikan berbasis masyarakat adalah suatu proses yang didesain untuk memperkaya kehidupan individual atau kelompok dengan mengikutsertakan orang-orang di dalam wilayah geografi, dan dapat berbagi mengenai kepentingan umum. Pendidikan berbasis masyarakat ini bertujuan untuk mengembangkan dengan sukarela melakukan tindakan, tempat pembelajaran, dan kesempatan refleksi yang ditentukan oleh pribadi, ekonomi, sosial, dan kebutuhan politik mereka.(Mark K. Smith).
Dan pendidikan berbasis masyarakat sebagai salah satu pendekatan untuk menyadarkan masyarakat terhadap pendidikan, dengan pendidikan sebagai proses dan masyarakat sebagai fasilitator yang dapat menyebabkan perubahan untuk menjadi lebih baik. Masyarakat dilibatkan sebagai pelaku untuk melaksanakan pendidikan di dearahnya, sehingga masyarakat harus tahu apa yang diinginkan dalam pendidikan dan potensi apa yang dapat dikembangkan dengan adanya pendidikan berbasis masyarakat. Dengan demikian, pendidikan dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat mencerminkan bahwa pendidikan bukan lagi suatu hal yang sulit dijangkau oleh sistem sederhana yang dimiliki oleh masyarakat dalam memperoleh haknya.